Artikel Tentang Sang Guru

Tulisan artikel berikut adalah pengalaman dari seorang Santri, yang menceritakan tentang proses pertemuan Beliau dengan sosok seorang Guru yang Luar Biasa dan boleh dikata tiada duanya, isi dalam artikel ini juga dapat mewakili banyaknya pertanyaan yang belum terjawab tentang “Siapakah sebenarnya Abah Syarif itu ?”. Artikel ini ditulis oleh Beliau Ibu Hj. Siti Afiah .Mag (Bu Wiwik) dalam akun facebook Beliau, dan saat ini Beliau sedang menjabat sebagai Kepala Sekolah MAN 1 Sragen (tapi sekarang sudah pensiun sejak Desember 2011). Selanjutnya silahkan pembaca menikmati isi dari artikel yang sangat menarik berikut ini… (artikel ini ditulis berseri dan akan terus bertambah sesuai dari penulis)

SANG GURU (1)

by Bu Wiwik on Tuesday, August 2, 2011 at 2:04am

aku mengenal sosoknya melalui proses yang panjang. tahun 87 aku mendengar namanya disebut oleh seorang muridku di madrasah aliyah sebagai pemuda yg pemberani melawan kemasiatan. tahun 90an aku mendengar cerita tentangnya dari bapak dan kakakku almarhum. bapak menghadiri undangan ulang tahun pondoknya lalu bercerita dengan decak kagum. “sebenarnya dia itu orang apa ya? kok dia bisa mengundang pak tri sutrisno segala… belum lagi suguhannya bagus bgt, sptsuguhan  hotel di jakarta. meja makannya, piringnya bahkan makanannya juga…….”  aku tidak memberi respon apapun atas cerita itu. tahun 95 setelah aku pindah kerja dari madrasah aliyah ke kantor kabupaten pernah 3 kali ditegur oleh pria yang sama saat pulang kerja. biasanya dia berdiri di bawah pohon sawo yang rindang di halaman kantor.  dengan bahasa jawa yg halus dia mengucapkan salam padaku. ” assalaamu’alaikum bu nyai”….. atau ” Kondur bu nyai…..”. lalu aku menjawabnya dng sekedarnya sambil mengangguk dan tersenyum. sebenarnya aku risih dengan panggilan “nyai” yang dia ucapkan tapi krn belum kenal maka kubiarkan panggilan itu terdengar. ketika sampai pada kali ketiga aku penasaran dan bertanya kpd teman se kantor… ternyata dia adalah sang guru yg namanya sdh lama kukenal.

th 96 di kantin kantor aku menyeruput kopi panas sambil makan ubi goreng pada jam istirahat.  entah lewat mana dia sdh duduk beberapa meter di sisiku dan berbaur dengan teman2 yg lain. dia tnya padaku dengan bhs jawa yg artinya, ” bu wiwik apa pengin jadi anggota dewan dari golkar?”…… aku yg tdk menduga ada pertanyaan itu langsung menjawab ” saya kok jadi anggoya dewan….. doakan saja khusnul khotimah…”. ” wah, kalau yg itu kelas berat….” – ” yaa, justru yg berat itu sy minta didoakan…. kalau yg ringan biar sy cari sendiri…..”  obrolan singkat itu lalu terlupakan.

beberapa tahun kemudian aku sering mengunjungi pondoknya karena dia mendirikan TK Islam dan Madrasah Ibtidaiyah yg menjadi tanggung jawabku di kantor.

th 2002, di hari sabtu aku pengin keluar rumah tapi belum tahu mau ke mana. dengan pertimbangan akan melihat kegiatan madrasah, aku menuju pondoknya. dia ada di teras masjid sedang memberi komando beberapa santri yang sedang melakukan sesuatu. di dalam masjid aku melihat beberapa wanita duduk berkeliling dan menyimak bacaan Qur’an. “ada acara apa itu pak kyai?”….. ” semaan Qur’an….. kalau bu wiwik mau, tak bantu ngadakan acara semaan Qur’an keliling ke madrasah di kabupaten sragen. malamnya tak panggilkan mubaligh utk pengajian akbar….. wah, aku langsung antusias dan semangat menerima tawarannya. ” baik pak kyai, kebetulan hari senin ada rapat kepala MI nanti kita bahas”……

bulan mei tahun 2002 mulailah semaan Qur’an keliling dari satu MI ke MI lainnya setiap bulan sekali. atau tepatnya tiap 5 minggu sekali. jadwalnya minggu paing. hingga sekarang semaan masih berlanjut. hanya saja tidak lagi berkeliling ke MI sepertisemula melainkan menetap di madrasah aliyah karena dari kantor kabupaten aku dikembalikan ke madrasah aliyah sebagai kepala madrasah.

SANG GURU (2)

by Bu Wiwik on Friday, August 5, 2011 at 12:42pm

Setelah kegiatan semaan keliling itu berjalan, intensitasku datang ke pondok dan pertemuanku dengan sang guru semakin tinggi. Aku merasa beruntung  karena keinginanku untuk tabayyun dengan sang guru akan terlaksana . Banyak hal yang ingin aku konfirmasikan dengannya karena banyak rumor dan issu yang menggelitik hatiku. Aku merasa tidak adil jika  info itu kuterima  begitu saja tanpa membuktikannya lebih dahulu.  Banyak orang bilang “dia itu nggak sholat, nggak bisa ngaji , menggunakan kekuatan majik. berlaku  musyrik, buta huruf,  seneng mengumpat dan berkata kasar, tidak pernah pakai alas kaki, tidak pernah mengenakan baju koko dan jubah sebagaimana pimpinan pondok atau kyai yang lain.

Mulailah aku memanfaatkan kedekatanku dengan istrinya yang hafal AQ. Dia, wanita 21 tahun berwajah bulat dan cantik dengan kulit putih yang selalu tersenyum ketika menjawab pertanyaanku. Ketika kutanya, bagaimana dia bisa diperisteri oleh sang guru, dengan tersipu dia menjawab “begitulah takdir”.  Ia anak kedua dari 7 bersaudara dari keluarga tani biasa. Sejak kecil ia ngaji hafalan Qur’an di sebuah pondok pesantren di Kabupaten Demak. Orangtuanya tidak pernah mengajarinya bekerja. Bahkan untuk belanja ke pasar pun ia tidak bisa melakukannya. Tugasnya hanya menghafal AQ. Ketika sudah khatam dan hafal 30 juz, pimpinan pondok memintanya membantu mengajar  hafalan Qur’an untuk santri yuniornya. Ia jalani tugas itu dengan baik. Waktu terus berjalan dan ia sempat dilamar beberapa pria yang ingin menikahinya. Ada guru agama, ada  pegawai kantor, ada juga beberapa kyai muda.  Belum satu pun  yang berkenan di hati. Hingga suatu hari ia dipanggil oleh pimpinan pondok dan dipertemukan dengan sang guru. Setelah berlangsung pembicaraan beberapa saat, ia menerima pinangan itu. Tidak lama kemudian orangtuanya dipanggil ke pondok dan berlangsunglah pernikahan siri. Setelah itu sang guru pulang ke sragen. 2 hari kemudian. sang guru bersama istri pertama dan 3 orang wanita pendamping menjemput  gadis itu untuk diboyong ke pondok pesantren di sragen.

Seolah tahu apa yang aku inginkan, dia mengajakku keliling bangunan pondok. Formasi bangunan ini terpusat pada masjid yang berada di dalam kompleks. Baru di sekelilingnya berdiri membujur dari utara ke selatan, dari timur ke barat yang kesemuanya menyatu dan hanya dipisahkan oleh pintu gerbang tanpa daun pintu. Tampaknya sang guru tidak suka pada bentuk-bentuk rekayasa modernitas. Semua bangunan menggunakan bahan alami baik dinding, lantai maupun atapnya. Lantai terbuat dari semen namun tebal dan halus. Dindingnya entah berapa bata hingga kelihatan tebal dan kokoh. Atap dan dempel pintu/ jendela terbuat dari kayu jati asli yang dia tebang langsung dari hutan. Dia pillih sendiri mana pohon yang sudah siap ditebang, lalu direndam di kolam besar selama 2 bulan. Maka kalau kita perhatikan kayu- kayu jati yang terpakai pada bangunan pondok ini kita akan berkesimpulan bahwa sang guru lebih mengutamakan kesempurnaan dan  kekuatan bukan keindahan yang direkayasa. Gambaran ini terlihat terutama jika kita berada di dalam masjid. Dari bawah akan kita lihat genteng berkualitas prima  yang bertengger di atas barisan kayu jati yang teksturnya padat tak bercacat. Sebagaimana pintu gerbang tak berdaun pintu, demikian juga pintu dan jendela masjid. Tak ada daun pintu atau daun jendela yang melekat di sana. Kesannya seperti bangunan yang belum jadi, tetapi begitulah adanya. Bagi sang guru,   masjid bukanlah tempat yang harus dibuka-tutup. Masjid harus selalu terbuka kapan saja dan untuk siapa saja. Konsep pembangunan masjid ini juga didasarkan pada perhitungan tertentu yang mengacu pada nilai-nilai Islami. Bangunan masjid ini luasnya 20 x 25 meter persegi. 20 dari bilangan sifat Allah sedangkan 25 dari bilangan jumlah Rasul Allah. Ada 9 kran tempat wudlu di sebelah utara masjid yang menggambarkan Wali Sembilan. Sedangkan di sebelah selatan masjid ada 17 kran untuk wudlu wanita. Angka ini adalah jumlah rokaat sholat wajib sehari semalam.

Setelah selesai  keliling lokasi pondok aku bertanya di ruang mana sang guru tidur. Lalu dia  menunjuk 2 kamar besar tempat sang guru beristirahat bersama  istri pertama dan 5 orang putra putrinya. Bergeser 50 meter ke arah utara, di situlah dia mengajakku masuk. “Inilah kamar saya bersama beliau”, katanya. Ukuran 4 x 5 meter persegi dengan kualitas bangunan seperti yang lainnya. Ada rasa perih yang menggigit hatiku. Dalam kamar itu tidak ada lemari atau tempat tidur apalagi meja rias seperti kebanyakan wanita.  Di lantai terhampar selembar tikar dari mendong (batang padi) sekitar 2×3 meter yang di atasnya ada sebuah bantal. Di sebelah tikar ada sebidang kasur dari kapuk yang tidak terlalu tebal. “Beliau tidur di tikar dan saya di kasur ini”….. Lalu kardus-kardus yang bertumpuk itu apa? tanyaku. “Itu tempat menyimpan baju-baju kami.”

Hatiku teraduk-aduk dan mulutku tersekat. Aku tidak mampu lagi menyusun kalimat untuk mengajukan pertanyaan apapun………..

SANG GURU (3)

by Bu Wiwik on Monday, August 8, 2011 at 12:09am

Aku belum sempat tabayyun tentang info kontroversial yang telah kusiapkan sejak awal, tetapi aku sudah menemukan fakta lapangan yang setidaknya bisa membantu memberiku jawaban. Bagaimana orang bisa mengatakan dia tidak sholat sedang aku menyaksikan dia mendirikan masjid dengan dasar spirit yang Islami?…..Memang aku belum pernah melihat dia sholat di masjid, tetapi cukupkah hal itu menjadi alasan untuk menyebutnya tidak sholat? Bisa saja dia sholat di dalam kamar atau di tempat pribadi yang orang lain ttidak tahu…..Soal majik, bagaimana aku bisa bertanya kalau aku sendiri sudah keliling setiap ruangan dan tidak menemukan sesuatu pun yang mencurigakan. Sampai ke dapur, ke kamar mandi baik kamar mandi santri maupun kamar mandi sang guru. Di mana letak majiknya ya?…..  Bahkan ketika Keraton Kasunanan Surakarta mengalami musibah dengan meninggalnya Sinuwun Pakubuwono XII lalu terjadi perebutan posisi pengganti Sinuwun, keris-keris pusaka keraton dititipkan kepada Sang Guru dan disimpan dalam  2 buah kardus besar. Melihat kumpulan keris yang teronggok di sudut ruang tengah aku sempat bertanya, ” Ini apa Guru?”….. Dia jawab, “Itu kan gara-gara Bapaknya meninggal terus anak-anaknya bertengkar berebut kedudukan, untuk sementara mereka titipkan di sini. Kerisnya anteng di sini, padahal katanya dia bisa jalan kemana-mana”…..  Beberapa saat aku terhenyak, hatiku bertanya, pertama: dia itu orang yang seperti apa ya, kok keris keraton saja dititipkan di sini?….. kedua, pandangannya yang realistis terhadap keris membuatku berpikir balik, bagaimana dia bisa dikatakan menggunakan kekuatan majik?……

Pemikiran yang rasional dan realistis juga aku temukan pada peristiwa lain.

Saat itu di kantorku (sebuah instansi tingkat kabupaten) mengalami kehilangan uang yang disimpan di brankas. Uang itu adalah uang yayasan kesejahteraan pegawai. Kejadiannya sampai 3 kali dan jumlah nominalnya hingga 60 juta rupiah. Tentu saja kejadian  ini menimbulkan suasana heboh di kantor. Ada yang usul lapor polisi. Yang lain melarang dengan alasan persoalannya bisa tambah panjang, banyak urusan dan bisa-bisa malah membuka aib sendiri.Aku mengusulkan untuk konsultasi saja kepada sang guru, juga ditolak. Mereka meragukan kemampuan sang guru. Akhirnya ditempuhlah jalan alternatif, konsultasi kepada seorang kyai yang dikenal pendai mencari barang hilang.

Ada tim yang dikirim kepada kyai yang tinggal di wilayah Salatiga. Aku, walaupun bukan anggota tim boleh ikut ke sana. Aku hanya ingin tahu bagaimana cara kerjanya. Sesampai di sana kami dipersilakan masuk ke sebuah ruangan ukuran 2×3 meter persegi. Di sudut ruangan sudah tersedia lampu minyak (teplok), telur ayam jawa dan minyak kelapa asli. Beberapa menit kyai melakukan ritual tertentu sedang kami bertiga “mengheningkankan cipta”. Selesai ritual beliau menyerahkan telur ayam jawa yang sudah diolesi minyak kelapa kepada kami. Lalu kami disuruh melihat foto siapa yang ada di dalam telur itu, dialah pencurinya.

Mungkin tidak akan menjadi persoalan jika yang hadir dan melihat foto itu hanya seorang diri. Dan karena kami datang bertiga maka ada 3 penafsiran. Kami berbeda pendapat. Yang satu mengatakan itu foto si A. Kebetulan  si A sudah lama tidak datang ke kantor dan konon pergi ke Kalimantan jualan batik. “Modalnya dari mana, coba”….. Yang satu lagi bilang itu foto si B. Si B adalah pegawai swasta, suami dari pegawai perempuan di kantor kami. “Dia kan baru .saja kena PHK?” Dan yang ketiga mengatakan itu foto si C. Si C adalah pegawai senior yang hampir pensiun, punya 2 istri dan 11 anak.

“barangkali dia bingung bagaimana menghidupi keluarganya kalau sudah pensiun…..”  Dalam hal ini kyai tadi tidak bisa ikut berpendapat. Sepenuhnya diserahkan kepada kami. Dan hasilnya, 0 besar. Kami tidak mencapai kesepakatan.

Setelah gagal usaha itu, diam-diam tim bekerja mencari kyai yang lain. Aku tidak diajak karena memang aku bukan anggota Tim. Aku baru tahu setelah diumumkan bahwa hari Jum’at jam 9 pagi semua pegawai kumpul di musolla untuk mengikuti ritual pencarian uang hilang. Ternyata kyainya dari Sragen saja dan aku mengenal namanya. Cara yang dipergunakan adalah dengan minum air putih yang sudah didoakan oleh kyai.

Aku tidak sabar melihat cara kerja Tim yang serba irrasional. Aku menghadap sang guru dan hanya bercerita tentang situasi kantor akhir-akhir ini. Dia tertawa sambil menyentil eksistensi kami sebagai pegawai negeri dengan kompetensi pemikiran yang tinggi dan muslim pula tetapi masih  mau menggunakan  cara yang tidak nalar. ” jangan mau minum bu wiwik…… katakan, aku tidak mencuri tapi aku nggak mau minum…….”…. Seharusnya lapor polisi saja, biar mereka yang menyelidiki. Sekalian bisa jadi  pelajaran untuk semua pegawai…… ” Nomor hapenya pak kyai berapa?’ tanya sang guru padaku. Setelah kembali ke kantor aku menemukan nomor itu lalu kukirim kepada sang guru.

Pada hari H jam 8 pagi berangkatlah Tim itu menjemput pak kyai. Saat mereka datang pak kyai sedang solat dzuha. Lalu mereka menunggu di ruang tamu. Tidak lama kemudian dengan tergopoh-gopoh pak kyai menemui Tim sambil menunjukkan hapenya dan berkata, ” ini dia….. pencurinya sudah ngaku….”. Dengan mata terbelalak karena terkejut anggota Tim menyambut pak kyai lalu mencoba ikut membaca isi sms di hape pak kyai. Dibacanya dengan cermat isi sms itu lalu seorang anggota Tim angkat bicara…..” pak kyai, ini bukan pengakuan …..coba kita baca bersama…”

Sms itu berbunyi ” jare arep omben-omben neng kantor…. iki lho aku duwe banyu bening…. ombenen…” (katanya mau minum-minum di kantor….. ini aku punya air jernih, silakan minum…)…..

Untuk kedua kalinya pencarian pencuri dengan cara alternatif itu gagal. Selanjutnya aku tidak pernah tahu bagaimana kehilangan uang itu diselesaikan.

Sebenarnya sejak pertama aku mengadakan Semaan Qur’an, aku sudah mendapatkan pelajaran yang berbeda dari sang guru dibanding para kyai lain yang pernah kutemukan.

Ceritanya, ketika selesai semaan Qur’an yang pertama kali kuselenggarakan di sebuah madrasah di Kecamatan Sumberlawang (20km dari kota Sragen)  aku mengantarnya kembali ke pondok. Sesampai di pondok aku menyerahkan sejumlah amplop (tentu saaja berisi uang) sebagai ucapan terimakasih. Isi amplop sudah aku bedakan antara istri sang guru dan pengikutnya yang jumlahnya sekitar 10 orang. Istri sang guru agak malu-malu menerima pemberianku sedang para santri menerimanya dengan wajah datar…… Setelah itu aku berpamitan  pulang.

Di luar dugaan, sang guru sudah menungguku du pintu gerbang. Dengan bahasa Jawa campuran kromo dan ngoko dia minta padaku supaya lain waktu jangan memberi uang.Cukup diantar- jemput saja. Sudah menjadi tugasnya untuk mengamalkan kemampuannya menghafal Al Qur’an. Ilmunya harus bermanfaat, bukan memanfaatkan ilmu…… Dan sebaris kalimat yang tak pernah kulupakan hingga sekarang adalah ” jangan ajari istri dan santriku untuk menjadi burung gagak pemakan bangkai”…….. Duhh…….

SANG GURU (4)

by Bu Wiwik on Thursday, August 11, 2011 at 11:30pm

Setelah tersimpan cukup lama, akhirnya pertanyaan itu lepas juga dari mulutku.

Saat itu kami berdua bercakap-cakap di ruang tamu. Tetapi sebelum masuk ke pertanyaanku baiknya aku cerita dulu tentang ruangan ini. Di ruang ini ada seperangkat meja kursi yang terbuat dari batang pohon jati yang dipotong sedemikian rupa hingga membentuk meja dan kursi. Asli, tanpa plitur, hanya diamril saja sehingga serat dan tekstur kayu jati itu masih tampak dengan jelas. Uniknya, ada satu kursi yang sandarannya sangat tinggi dan lebar. Aku mengira kursi yang ini pasti dari batang pohon yang berdiameter sekitar 2 atau 3 meter sehingga tempat duduknya bisa menampung 3 orang. Aku sering melihat tamu-tamu berpose di kursi itu. Di sebelah kiri kursi itu ada seekor “harimau” yang berdiri gagah menghadap ke utara. Aku tidak tahu dari mana dan  bagaimana harimau itu bisa berdiri di situ. Di belakang kursi besar ada dinding anyaman bambu kulitan yang menjadi penyekat antara ruang tamu dengan ruang tengah. Ada pintu kecil yang menghubungkan  kedua ruang itu.  Baik ruang tamu maupun ruang tengah berlantai tanah. Kalau di ruang tamu disediakan kursi, maka di ruang tengah disediakan hamparan anyaman bambu kulitan untuk lesehan.Pekerjaan menganyam bambu dilakukan di tempat. Di ruang ini Sang Guru biasa menjamu makan tamu- tamunya. Beberapa tamu yang pernah kulihat hadir di ruangan ini antara lain  Akbar Tanjung,  Adi Sasono,  Prof Subur Budi Santosa (Wantimpres, pendiri Demokrat), Prof Damarjati Supajar dosen filasafat UGM, pengamat ekonomi Faisal Basri dan yang terakhir berkunjung sekitar 2 bulan yang lalu adalah Iwan Fals dan Sastro Blangkon ( dulu asprinya Gus Dur)

Kembali ke pertanyaanku. Saat itu aku bertanya kepada sang guru, kenapa pakaiannya selalu standard, celana panjang kaos oblong?  Sama sekali tidak mencerminkan seorang pimpinan pondok pesantren. Sarung, hem dan peci hanya dikenakan saat menyampaikan  pengajian di masjid 2 kali dalam 5 minggu yang dalam bahasa Jawa disebut selapan dina. Bahkan saat ulangtahun pondok yang diselenggarakan setiap  malam Minggu Legi bulan Muharam sang guru menge nakan sarung dan  peci tetapi atasannya hanya kaos oblong lalu selembar sarung yang lain dikalungkan di leher. Baju koko yang kian hari kian modis justru tak pernah disentuhnya.  Orang yang baru pertama kali mengenal sang guru pasti kecele karena mengira sang guru adalah sosok tua,bersarung dan berjubah. Ini pula yang aku usulkan  kepada sang guru kenapa tidak berbusana seperti umumnya pimpinan pondok pesantren atau kyai lainnya.

Sang guru menjawab, ” aku ini bukan kyai bu wiwik, aku adalah pelayan bagi siapa yang membutuhkan. Ibarat sopir bis, aku ini sopir bis umum, tidak pernah membedakan asal usul penumpang, siapapun boleh naik, sukur-sukur sampai tujuan, kalau mau turun di jalan….. ya , itu urusan dia….”

Mendengar jawaban ini, aku tidak tahu harus merespon dengan kalimat apa…. Aku hanya mengangguk dan bergumam  untuk diriku sendiri. “iya…. iya…. iya…..” begitu seterusnya hingga sang guru selesai bicara.

Penjelasan yang juga masih kuingat adalah….” kalau aku pake baju koko, duduk bersila di ruang tertutup  pegang tasbih… apa mungkin “orang-orang kotor” itu berani  mendekatiku? Siapa yang akan merawat mereka?  Padahal mereka juga membutuhkan tempat berteduh dari lelahnya menjalani hidup.

Rasanya aku ingin menangis mendengar kalimat ini karena aku belum pernah mendengarnya dari orang lain, bahkan dari seorang kyai sekali pun.

Pada pengajian berikutnya, seolah ingin memperjelas keterangan yang pernah disampaikan kepadaku, materi tentang busana itu dibahas kembali. Bahkan pada pidato ulangtahun pondok yang ke 20 di tahun 2006, di mana pesertanya ada ribuan orang, materi itu diungkap kembali. Kalimat sang guru antara lain ” aku mempertahankan pakaian yang seperti ini karena aku lebih mementingkan isi jiwaku. Sebagai hamba Allah, jiwaku, ruhku hanya terikat padanya. Setiap saat setiap detik waktuku aku harus taat dan taubat padaNYA. Itulah hablun min Allah. Sedangkan hablun minanas, ragaku haruslah memberi manfaat kepada sesama. Apa artinya memakai jubah kalau jiwa dan ruhnya tidak menuju ke SANA?. Aku berjanji di hadapan Allah, jika hatiku, jiwaku, ruhku tidak terus bergantung kepadaMU, tidak terus menyebut NAMAMU, atau berhenti sedetik saja UNTUKMU, maka matikan saja aku Ya Allah…..yang dalam bahasa Jawa beliau ucapkan dengan ” Panjenengan pejahi kemawon kula  Gusti”……. Dan aku benar-benar menangis karena degup jantungku menyentuh jiwaku yang paling dalam.

Dan dari perjalananku selanjutnya aku menemukan beberapa kejadian yang membuatku meyakini bahwa penjelasannya itu bukanlah omong kosong.

Suatu hari aku melihat seorang pria dari Kecamatan Mondokan,  sekitar 15 Km dari kota Sragen datang kepada sang guru dan melaporkan bahwa sapinya hilang. Untuk menolong lelaki itu,sang guru minta agar istrinya menulis surat untuk Dan Ramil setempat. Isi surat itu  ditulis dengan bahasa jawa kromo, “Katur Dan Ramil Mondokan. Kula, kawula alit saking plosorejo gondang ngaturi pirsa bilih setunggaling wargo panjenengan kecalan sapi.Nyuwun tulung supados dipun rencangi madosi wonten sekitar dusun mriku. Atas kesaenan panjenengan mugi Gusti Allah paring kesaenan ingkang  kathah dateng panjenengan”  ( kepada Dan Ramil Mondokan. Saya, orang kecil dari Plosorejo Gondang memberitahukan bahwa ada warga Mondokan yang kehilangan sapi. Tolong dibantu mencari di sekitar kampung itu. Atas kebaikan hati anda, semoga Allah membalas dengan kebaikan yang banyak”). Surat dilipat lalu dimasukkan amplop, diserahlkan kepada pria itu untuk kemudian dikirim kepada Komandan Koramil Mondokan.

Aku tidak tahu berapa lama proses pencarian itu, yang jelas pria itu datang kembali kepada sang guru dan melaporkan bahwa sapinya sudah ketemu.

Kejadian yang lain aku saksikan juga di ruang tamu ini. Saat itu aku bersama seorang teman sedang menghadap sang guru. Tidak lama kemudian ada 3 orang pria bertubuh kekar memanggil nama sang guru dengan nada berteriak tetapi suaranya  parau.  Matanya juga kelihatan  merah. Aku menduga mereka baru saja mabuk. Sang guru segera berdiri menyambut kedatangannya. Aku melihat pemandangan yang “aneh dan asing”. Ketiga orang itu mengerubuti sang guru menyalami dan menciumi tangannya terus berlanjut mencium lutut hingga ke ujung kakinya. Sang guru mengangkat tubuh ketiga pria itu lalu mendudukkannya di kursi. Sang guru memintaku masuk ke ruang tengah. Aku mentaatinya. Aku tidak tahu isi pembicaraan mereka. 10 menit kemudian mereka pulang dan aku diminta kembali ke ruang tamu.

Kejadian lain kutemui saat sang guru mengawali pembangunan masjid di Jalan Raya Sragen- Ngawi Km7 sekitar tahun 2007. Di lokasi itu setahun sebelumnya sang guru mendirikan Rumah Makan dengan nama “Yu Sri” , cabang dari “RM Pecel Yu Sri” Simpang Lima Semarang. Pemilik Rumah Makan ini memang biasa mengaji kepada sang guru.

Dalam waktu setahun tanah di lokasi itu meluas hingga beberapa ratus meter ke belakang. Ternyata sang guru memang berencana mendirikan masjid di belakang rumah makan. Persiapannya cukup lama. Tanah calon masjid itu ditirakati oleh beberapa orang pilihan dalam waktu tertentu. Tirakatnya berupa, tidur di atas tikar tepat di tengah-tengah calon bangunan masjid, dipergunakan untuk sholat tahajud dan untuk berdzikir kepada Allah. Bagi yang sudah pernah mendapat tugas seperti itu, mereka akan bercerita dengan bangga tentang pengalamannya diterpa angin malam, tentang dzikirnya yang mengharu biru atau tentang tahajudnya yang membuatnya serasa terbang ke awan. Pas bulan Rojab dimulailah pembangunan masjid itu. Namun sebelum penggalian tanah untuk fondasi dimulai,  pada hari Jum’at paing setelah malamnya mengaji, ba’da subuh ada ritual dzikir LAA ILAAHA ILLA ALLAH sambil mengelilingi calon lokasi masjid. Acara ini langsung dipimpin sang guru diikuti keluarganya dan para santrinya.

Jam 6.30 acara ini selesai dan aku mohon pamit karena harus segera ke kantor. Oleh sang guru aku “dititipi” seseorang untuk numpang di mobilku hingga ke terminal Pilangsari. Kupersilakan dia duduk di belakang sementara aku pegang setir di depan. Dia, pria sekitar 40th tinggi besar, rambutnya ikal dengan wajah yang terkesan kotor. Bajunya pun warna hitam sehingga secara keseluruhan mengesankan  kesedihan dan kehinaan. Dalam perjalanan yang hanya 4 km, kami ngobrol banyak. Dari obrolan itu aku mendengar bahwa dia asli dari PurwodadiL. Mengenal sang guru sekitar 2 tahun yang lalu saat dia ingin melakukan pertaubatan setelah sepanjang hidupnya diisi dengan berbagai macam kemaksiatan. Saat itu dorongannya sangat kuat untuk bertaubat. Dia lelah menjalani kehidupan seperti yang selama ini dia jalani.Suatiu malam dia datang ke sebuah masjid lalu duduk di tempat yang agak tersembunyi. Dia tidak tahu bagaimana caranya mengawali masuk masjid. Dia terus saja  mengikuti ceramah yang sedang disampaikan oleh kyai  di masjid itu. Tetapi ketika materinya menyangkut pelaku maksiat dan hanya neraka tempatnya, dia menangis sedih. Sedih sekali. Dalam hati dia bertanya, apakah tidak ada tempat kembali bagi kami yang tersesat?…. Dia membatalkan diri masuk masjid. Berdiri di pinggir jalan tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Saat itulah ada mobil berhenti di hadapannya lalu salah satu penumpang bertanya, “mau ke mana?”. Sebelum sempat menjawab, penumpang mobil itu segera melontarkan ajakan ” ayo ikut saya….” . Dia tidak punya pikiran apapun selain mengikuti ajakannya. Ternyata penumpang mobil itu adalah sang guru. Dia dibawa ke masjid sang guru , disuruhnya dia mandi keramas , ganti baju lalu diajari bertaubat dan melakukan sholat. Setelah beberapa hari di pondok dia diminta pulang dengan sebuah pesan untuk menjalani kehidupan dengan cara lebih baik.. Karena dia hanya punya keterampilan terapi pijat maka dia hidup dari pekerjaan itu. Itupun, dia tidak boleh menyebut besarnya bayaran yang dia inginkan, bahkan kalau ada bayaran yang dirasa terlalu besar, dia harus ikhlas mengembalikannya. Prinsipnya, dia harus lebih banyak menolong orang daripada mencari uang.

Semalam dia dipanggil sang guru untuk melakukan terapi pijat karena sang guru kelelahan. Dan pagi ini diikutsertakan dalam proses pembangunan masjid. ” Jadi, kalau ketemu sang guru saya tidak bisa berbuat apapun kecuali menangis. Apalagi kalau sang guru melantunkan tahlil seperti tadi pagi….. tidak ada yang saya inginkan kecuali menangis. Saya bersyukur sudah diantar bertaubat dan menjalani kehidupan yang lebih baik”

Aku melepasnya turun di depan terminal Pilangsari dengan penuh rasa empati. Wajah sang guru terbayang di mataku. Aku akan terus mengikutimu, kataku…….

SANG GURU (5)

by Bu Wiwik on Thursday, August 18, 2011 at 6:20am

MASJID. Itulah satu kata yang secara maknawi membuat sang guru tak pernah berhenti bekerja dan berkarya. Selesai membangun satu masjid, membangun lagi masjid di tempat yang lainnya. Kondisi ini sejalan dengan materi pelajaran yang selalu disampaikan pada saat pengajian. Tugas hidup manusia ada 2. Masuknya nafas, habluminallah – taat dan taubat. Keluarnya nafas, hablumminannaas – badan / raga menguntungkan orang lain. Laku utomo….nguntungake wong liyo……  Dengan kata lain, hidup ini akan bermakna jika tidak untuk diri sendiri melainkan untuk kebersamaan, untuk sesama makhluk Tuhan. Maka sering juga di tengah pagelaran wayang sang guru nembang ” ngrogoh kanthong dikekke uwong” sambil tangannya memperagakan makna syair itu. Seketika itu irama gamelan berubah mengiringi gaya sang guru lalu diikuti seluruh santri yang hadir. Semua gembira, ssemua bahagia. Aku sangat menikmati tembang ini. Gong nya yang menggelegar seolah memukul hati dan menyemangati jiwaku untuk terus berusaha “ngrogoh kanthong dikekke uwong”……Aku tahu, dengan cara ini sebenarnya sang guru ingin membebaskan para santri dari belenggu keterikatan jiwa dan ruh mereka dengan makhluq lainnya sehingga lebih mudah “naik ke atas”……Aku jadi ingat, bedug yang berada di masjid pondok itu  bertuliskan “KYAI UTOMO” .

Dalam sebuah acara di pondok pesantren aku duduk berdampingan dengan seorang ibu seumuran denganku. Kami ngobrol banyak. Dia asli Bantul punya 3 anak kandung dan 2 anak angkat. Salah satu anak angkatnya ikut bersamanya ke pondok ini. ” Itu……!”, dia menunjuk seorang pria muda berbaju batik, berpeci yang sedang bercakap-cakap dengan sang guru. Dia sudah beristri dan punya 3 anak. Dia seorang insinyur teknil sipil dari sebuah perguruan tinggi di Yogya. ” Waktu sang guru membangun masjid di Bantul, anak saya yang dipasrahi untuk ngurus dan ngawasi………”.

Dari situ aku tahu sang guru membangun masjid di Bantul. Sayang aku lupa bertanya nama dan lokasi masjidnya.

Di Boyolali, dari terminal sekitar 200m arah ke Semarang di sebelah kanan jalan,  ada masjid bernama Masjid Bani Adam. Itu masjiidnya sang guru. Mengapa namanya Bani Adam? Unik. Tidak seperti nama-nama masjid pada umumnya yang mengarah pada sebuah harapan seperti At Taqwa, Baiturrohim, Al Falah, dan sebagainya. ” begitulah sang guru memberi nama pada masjid itu……”. Tetapi jika dikaitkan dengan filosofi kehidupan sang guru yang bebas dan merdeka dalam arti yang sebenarnya, maka Bani Adam mengandung makna yang universal, tidak ada pengkotakan manusia sebagai makhluk Tuhan, tidak ada sekat-sekat yang membuat umat Islam terpisah satu sama lain. Hanya ada satu predikat untuk mereka yaitu sama-sama sebagai hamba Allah azza wa jalla.

Di Palur ada juga masjid sang guru. Jika kita jalan dari Sragen ke Solo lewat ringroad Palur, tengoklah sebelah kanan jalan sekitar 1km dari belokan bangjo ada masjid yang lokasinya agak menjorok ke bawah. Cet warna putih dengan kombinasi warna biru muda, bertingkat, namanya Ar Rohim. Aku beberapa kali singgah dan sholat di masjid itu bersama sang guru dan istrinya. Penjaga masjid itu pasangan  suami istri yang masih muda. Kecuali menjaga masjid, mereka juga membuka warung kecil sekedar melayani  kebutuhan pengunjung untuk membersihkan diri seperti sikat gigi, sabun mandi, handuk kecil, sendal jepit dan sejeniisnya. Pasangan  penjaga masjid ini sangat tawaddu. Terbukti ketika kami datang, dengan cepat mereka menyambut kedatangan kami dan melakukan salam ta’dzim  kepada sang guru dan istrinya. Aku melihatnya dengan suka cita……

Sementara hanya 3 masjid itu yang aku bisa ceritakan karena aku mendengar dan melihatnya sendiri.  Tetapi ada juga info bahwa sang guru mendirikan masjid di wilayah Kabupaten Klaten. Sayang aku  belum punya data yang lengkap untuk menuliskannya. Ada juga info bahwa sang guru  punya  masjid dan pondok pesantren  di Lampung. Temanku, Ir Sunarmasto MT, seorang dosen teknik sipil di UNS Surakarta, pernah diajak sang guru ke sana. Dia menyaksikan betapa para santri  sangat menghormati sekaligus mencintai sang guru. Dia tidak bisa mengungkapkan rasa kagum dan hormatnya kepada sang guru. Dia hanya bisa menangis terharu menyaksikan kedekatan para santri dengan sang guru. Kunjungan sang guru  yang hanya semalam membuat banyak santri dari daerah lain sekitar Lampung yang kecewa karena tidak sempat bertemu.

Masjid yang paling aku ketahui dan aku ikuti proses pembangunannya adakah masjid di Desa Lemahabang, Sambungmacan, 7km dari Sragen kota ke arah timur. Sebagaimana masjid yang ada di lokasi pondok, masjid ini juga tidak punya nama. Kalau masjid yang di pondok menyatu dengan Pondok Pesantren Nurulhuda, masjid yang di Lemahbang ini menyatu dengan Rumah Makan Nurulhuda. Nama ” YU SRI” sudah diganti.

Masjid ini dibangun sejak bulan Rajab tahun 1430H atau th 2008. Setahun kemudian masjid bagian depan sudah dapat dipergunakan untuk sholat. Untuk mensyukuri ini sang guru mengundang pagelaran wayang Ki Enthus Susmono dari Tegal. Diundang juga Yati Pesek dari Yogya, Markaban dari Kudus dan beberapa seniman  lainnya.

Bulan Rajab 1431H, masjid ini dinyatakan selesai.

Untuk menyambut Idul Fitri tahun ini sang guru menambah pembangunan kamar kecil yang semula 20 unit menjadi 50 unit supaya pengunjung lebih nyaman dan tidak perlu antri.

Selesai masjid Lemahbang , sang guru sudah punya proyek baru. Penetapan awal pembangunan masjid baru ini dilaksanakan  pada bulan Rajab 1432H, sekitar Juni-Juli 2011.  Setahun yang lalu sang guru membeli tanah seluas 3 hektar seharga 3M di jalan raya Tuban – Lamongan masuk wilayah Dusun Sundulan Kalurahan Sumber Agung Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban.

Banyak orang bertanya, bagaimana sang guru sebegitu kayanya, bisa membangun masjid di beberapa tempat tanpa minta bantuan siapapun…… Dari mana uangnya?…

SANG GURU (6)

by Bu Wiwik on Monday, August 22, 2011 at 12:02am

Banyak orang berfikir bagaimana pekerjaan sebesar itu dikerjakan “sendiri” tanpa bantuan orang lain?. Dari mana uangnya. Bagaimana manajemennya?….. Sulit dinalar.  Aku pun pernah berpikir  seperti itu. Tetapi  aku yakin bahwa orang-orang yang “bersih” tentu ada fasilitas tambahan dari Allah yang diberikan padanya untuk menjalani kehidupannya. ” Sesungguhnya bumi ini diwariskan kepada hambaKU yang soleh” ( QS 21 : 105). Aku berhenti berfikir tentang hukum sebab akibat yang bersifat materiil matematis.

Kalau kita hanya melihat sang guru dari jauh, tidak melihat sendiri dari dekat, apalagi jika kita sudah termakan oleh dugaan buruk, maka yang muncul adalah kesimpulan yang buruk juga. Bahwa sang guru punya dhemit atau jin untuk mencuri uang.  Bahwa sang guru main sulap dari daun menjadi uang. Dan yang lebih seru, bahwa  sang guru mencetak uang sendiri. Gambaran tentang  orang  kaya kan mesti kelihatan punya usaha yang sukses dan terkenal. Rumahnya mesti  bagus, tanah  luas,  mobil  keren, deposito di berbagai  bank atau perhiasan  yang berkilau dan mencolok mata. Tapi semua gambaran ini tidak ada pada sang guru……

Setelah beberapa tahun aku mendekat dan mengikuti perjalanannya, barulah aku tahu, sang guru punya beberapa usaha. Ada 12 ricemill yang tersebar di seluruh Kabupaten Sragen, ada usaha  pertanian yang ketika panen semangka bisa mengirim ke Jakarta senilai Rp 100 juta, ada 5 unit Bus Pariwisata, ada kerjasama dengan Cina tentang pengolahan pasir besi di pantai selatan, ada super market di Jakarta, ada tambang pasir merapi sekaligus 3 unit bego, ada tambang batubara di Kalimantan, bahkan ada tambang emas di Papua. Tetapi semua itu hanya kutahu secara sekilas. Aku mendengarnya dari berbagai sumber yaitu dari orang yang lebih lama dekat dengan sang guru. Tapi pernah juga aku melihat sendiri sang guru sedang menerima seorang tamu lalu mengangkat telpon beberapa saat, lalu berkata kepada tamunya , ” hehe ….orang nggak ada yang  tahu kalau aku ini pengusaha……”. Aku menyaksikan adegan itu dari jarak sekitar 5 meter.

Usaha sang guru yang aku lihat dan ikuti perjalanannya adalah rumah makan di Jalan Raya Timur Km7 Sragen.

Rumah makan yang buka 24 jam ini memang selalu ramai dikunjungi orang. Rombongan wisata dan ziarah walisongo biasa singgah di sini. Masakan jawa dengan model prasmanan disertai masjid yang luas, bebas, kamar kecil yang banyak dengan air berlimpah  rupanya menjadi daya tarik bagi pengunjung. Kamar kecil dan tempat wudlu di masjid ini tidak ditunggu oleh petugas yang menarik bayaran. Semua seikhlasnya saja. Konon, waktu muda sang guru pernah punya pengalaman pahit tentang  kamar kecil yang  ditarik bayaran. Saat itu beliau masuk kamar kecil tapi tidak punya uang, maka terjadilah perang mulut dengan penjaga kamar kecil. Dan sekarang, setelah berhasil membangun masjid dengan puluhan kamar kecil dengan infaq seikhlasnya, beliau sempat berseloroh, “kalau hanya untuk cari makan untuk keluarga, aku cukup jaga wese itu….sebulan bisa mencapai Rp 15 juta.”

Tentang kepemilikan, beliau sering menyebut dengan kata “kita”. Masjid kita, pondok kita, bus kita, tanah kita dsb. Ketika  bus pariwisata baru datang beliau menawariku dengan kalimat , ” ….sekarang kita punya bus wisata  bu wiwik… kalau mau dipakai silakan tinggal bayar bensin sama sopirnya saja……” . Demikian juga ketika tanah masjid ini diperluas ke arah timur, beliau memberi kabar padaku dengan kalimat , ” ….bu wiwik, tanah kita akan tambah luas ….yang 15m ke timur ini sudah jadi , tinggal bayar… Rp 150juta.. , tapi  belum ada uangnya…..he he he ….”

15m ke timur membujur dari jalan raya ke utara sampai jalan desa….. luas sekali ….., kataku dalam hati. Sementara itu sang guru dengan nada bercanda berkata, ” sebenarnya kalau setiap santri Rp1 juta saja, sehari beres ya bu?…..”  “Benar sekali  Guru, saya juga mau…..”, jawabku dengan semangat… tapi beliau  segera menyahut….”biar saja lah, nanti juga beres sendiri…..”.

Mepet di garis batas tanah ini dengan jalan desa, sang guru mendirikan sebuah bangunan. Semula aku menduga gedung itu untuk ruang pengajian anak-anak sekitar. Sementara ini aku melihat setiap ba’da ashar ada  kegiatan TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an) yang berlangsung di masjid ini dan dibimbing oleh ustadz / ustadzah yang merangkap sebagai pengelola rumah makan. Tetapi di  lain waktu, gedung itu sudah berfungsi untuk kegiatan lain. Aku melihat ada semacam mesin pemecah batu (?) ada beberapa  tukang yang sedang menerima penjelsan dari   sang guru. Aku bersama isteri sang guru duduk agak jauh dari mereka. Setelah tukang- tukang itu pergi meninggalkan sang guru sendiri, aku mencoba mendekat dan bertanya, ” ini mesin apa Guru?……” . Dengan santai beliau menjawab “… kalau aku terangkan paling bu wiwik juga nggak akan ngerti…..”.  Aku melongo…. tahu diri…. Aku baru sadar, terlalu banyak bertanya….

Yang kemudian membuatku  merenung  adalah, bagaimana mungkin orang dengan usaha yang  banyak, yang dapat memberinya harta berlimpah dan bisa  hidup mewah, sudah merasa cukup dengan rumah sederhana,  tidur di atas tikar, baju standard kaos oblong, dan sering puasa. Hartanya lebih banyak untuk membangun  masjid di sana-sini. Juga untuk menyenangkan banyak orang saat momen tertentu di pondok pesantren. Demikian juga  isterinya,  tidak ada yang menuntut minta busana atau perhiasan yang “wah”.   Anak-anaknya?  Tidak seorang pun yang tampil sebagai remaja yang gaul yang membutuhkan penampilan yang gaya dan trendi. Malah sebaliknya mereka sangat santun dan lembut. Pernah dalam satu kesempatan setelah selesai perayaan ulangtahun pondok aku bercerita  kepada sang guru  bahwa ada seorang kyai yang hadir dan mengatakan ” kaya sekali sang guru ini……” . Beliau tersenyum padaku dan melontarkan jawaban pendek , ” Allah yang kaya……”.

Ini semua membuatku yakin, ada kekuatan lain yang diberikan Allah kepada sang guru.

SANG GURU (7)

by Bu Wiwik on Sunday, August 28, 2011 at 6:16am

Berikut ini aku akan bercerita tentang info kontroversial  yang sudah lama tersimpan di hati tetapi baru beberapa tahun kemudian aku berhasil mendapatkan  jawabannya. Info itu adalah ” mengapa sang guru suka bicara kasar, misuh, mengumpat dan menghujat”

Mungkin karena kuatnya  menjaga jarak dengan harta kekayaannya sendiri, kuat membentengi diri dari keterikatan dengan makhluq jasadi dan kuat  mensterilkan diri dari virus nafsu duniawi, beliau menjadi manusia yang merdeka. Merdeka dalam arti sepenuhnya. Beliau tidak takut kepada siapapun,  tidak rendah diri atau minder di depan siapapun. ” Jangan takut kepada siapapun tetapi juga  jangan menakut-nakuti siapapun”….. itu salah satu pelajaran yang  sering disampaikan kepada santrinya.

Ungkapan itu dapat menjadi pendobrak tatanan perilaku salah kaprah yang terlanjur “mapan”. Banyak orang  dengan kewenangannya yang tidak seberapa sudah berani menakut-nakuti orang yang lemah dan mempersulit urusannya sehingga dirinya tampak sebagai orang yang berharga dan tidak terjangkau. Sebaliknya, jika dia berhadapan dengan orang yang lebih berkuasa, ketakutan  akan menghinggapi dirinya  walaupun dia tidak melakukani kesalahan.

Dalam Islam ada ” yassiruu wa laa tu’assiruu” ( mudahkanlah jangan kamu ipersulit)….

Karena “kemerdekaan” yang melekat dalam dirinya maka tidak ada beban baginya  untuk melontarkan kata-kata kasar, caci-maki , umpatan atau hujatan terhadap orang-orang yang menurutnya pantas menerimanya. Acuannya cuma satu, hati nurani. Beliau berlaku atau berucap seperti apa adanya, keluar dari hati tanpa basa basi, tanpa pretensi, apalagi perhitungan untung rugi.  Anehnya, banyak orang  justru  merasa terwakili untuk mengungkapkan isi hatinya. Sebab banyak orang tertekan oleh rasa takut, rasa pekewuh dan unggah-ungguh sehingga suara hatinya terpendam lalu pada gilirannya menumbuhkan rasa frustasi dan patah hati. Dan itu benar….tidak salah. Itu fakta yang nyata dirasakan oleh orang-orang yang lemah dari lapisan bawah.  Ungkapan seperti ” bupati malsu ijazah” – ” pejabat bejat” – “kyai kirik” dan semacamnya sering terdengar sebagai ilustrasi dalam pengajiannya. Di sisi lain, para “korban” umpatan dan hujatan itu tak satupun yang melapor kepada polisi untuk kasus misalnya “pencemaran nama baik”…. Semua berjalan baik-baik saja. Tapi jangan sekali-kali ikut-ikut cara sang guru misuh, mencaci atau mengumpat orang, bisa sangat berbeda nuansanya.

Ketika dalam satu kesempatan hal itu kutanyakan beliau menjawab dengan sebuah perumpamaan , ” nek ana mobil tabrakan , remuk, apa cukup digawakke sulak karo pethik?..” – “kalau ada mobil tabrakan dan hancur apa cukup diperbaiki dengan sulak ( bulu ayam pembersih debu) dan alat pembuka sekrup… “

Aku mengangguk sambil mencerna kalimatnya. Pemahamanku saat itu, berarti  pisuhan, caci- maki, umpatan  dan hujatan itu hanya untuk orang-orang yang rusak seperti mobil tabrakan dan hancur. Tidak cukup hanya diingatkan dan dinasehati. Dia harus “digergaji , dikenteng, dibakar lalu disambung atau dilas”.

Dalam bahasa Jawa mencaci-maki  atau mengumpat itu  “misuh”. Cuci tangan atau cuci kaki bahasa Jawanya ” wisuh – wijik”. Menjawab pertanyaanku beliau menambah keterangannya begini, ” kudune sing tak pisuhi kuwi maturnuwun karo aku…wong wis tak wisuhi… tak resiki….” ( mestinya orang yang sudah tak umpat, tak caci maki itu berterimaksih padaku karena sudah tak cuci, tak bersihkan). …….

Dan memang, setelah mencaci-maki  seorang pejabat, beliau lanjutkan dengan doa semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan mengajak semua santri membaca fatihah untuknya.

Jika tujuannya memang untuk “misuhi” atau ” membersihkan” seseorang ,maka benarlah apa yang beliau lakukan karena umpatan dan hujatan itu hanya disampaikan saat pengajian, bukan dalam interaksi sehari-hari…. Bahkan sebaliknya, yang kurasakan selama dekat dan bergaul dengan beliau aku melihat kehalusan budi pekerti dan kelembutan hatinya.

Bagaimana cara beliau menghadapi murid-murid saat memberi pengarahan menjelang liburan misalnya, suasananya bebas dan gembira penuh ketulusan.   Kehalusan budi pekertinya juga sempat aku saksikan dalam jamuan makan bersama pejabat tingkat propinsi dan seorang kyai besar dari sebuah pondok pesantren terkenal.

Suatu hari di tahun 2003, aku bersama 3 orang teman pria dan sang guru melakukan perjalanan ke Pondok Pesantren Tegalrejo Magelang. Waktu itu pimpinan pondoknya adalah Bapak KH. Abdurrohman Chudlori ( sekarang sudah almarhum) yang juga salah satu Rois Aam PKB. Sang Guru  akan menemui Kakanwil yang sedang berkunjung ke sana. Salah satu dari 3 temanku adalah kandidat kepala kantor di kabupaten. Beberapa saat sebelum sampai di pondok sang guru memberi perintah kepada teman-teman untuk ganti hem batik lengan panjang dan pakai peci. “Kalau aku, sudah biasa begini, nggak apa-apa…….” kata sang guru mengomentari busananya sendiri. Celana panjang kaos oblong tanpa alas kaki.

Di  depan pintu rumah Kyai,  beliau berkacak pinggang sambil mengucap salam. Pintu dibuka, Kyai keluar, aku menyaksikan mereka bersalaman dan berpelukan seperti sahabat yang sudah lama tidak berjumpa. Beliau masuk ke ruang dalam dan kami mengikutinya dari belakang. Beliau bersama Kakanwil dan Kyai duduk dalam satu meja dan kami di meja yang lain. Selesai pembicaraan, kami dijamu makan siang. Kami semua pindah ke ruang makan tapi tetap dengan  meja yang terpisah. Aku sengaja duduk di posisi yang memungkinkan bisa melihat sang guru makan.

Walaupun banyak orang mengira sang guru adalah orang kasar tetapi yang aku saksikan saat makan adalah gaya “priyayi” yang penuh tata krama dan etika. Bagaimana beliau duduk dengan tegak, memegang sendok garpu dengan benar dan mengunyah makanan dengan sopan. Juga tidak ada bunyi dentingan sendok dan garpu saat menyentuh piring. Jauh dari perkiraan sebelumnya bahwa beliau akan makan dengan lahap, cepat, diirngi bunyi cap-cap dari mulutnya dan suara nyaring dari denting sendok yang menyentuh piring.

Selain biasa mengumpat dan menghujat, sang  guru juga biasa “merusak”  tatanan protokoler yang dinilainya membatasi kemerdekaan orang untuk menghambakan dirinya hanya kepada Allah dan menggantinya dengan menghambakan diri kepada sesama makhluq yaitu jabatan dan kekayaan. Baiklah, tentang hal ini aku tulis di catatan yang akan datang.

SANG GURU ( 8 )

by Bu Wiwik on Thursday, September 1, 2011 at 4:46pm

Jiwanya yang “bebas dan merdeka”  membuatnya memiliki pola berpikir yang bebas dan merdeka pula. Berbeda dari orang lain pada umumnya yang masih terikat dengan norma sosio kultural yang materiil. Beliau hanya berpijak pada hubungan antara hamba dengan hamba dan hamba dengan  Tuhan. Seperti gambar segitiga samakaki. Semua hamba sama derajatnya di hadapan Tuhan dan karena itu hanya Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Kaya, Maha Kuat dsb.

Beliau menilai  norma-norma sosial masa kini sudah menyesatkan, salah kaprah, bahkan memutar balikkan posisi, siapa menyembah siapa disembah. Contohnya, pejabat itu pelayan rakyat, tetapi kenyataannya rakyatlah yang melayani pejabat. Ada  aturan tak tertulis bahwa pejabat harus dihormati, rakyat boleh disepelekan. Pejabat melanggar aturan nggak apa-apa, tapi rakyat melanggar aturan ada hukuman. Pejabat sama dengan Penguasa. Padahal yang berkuasa mestinya rakyat. Anggota Dewan adalah wakil rakyat, tapi  mereka nggak kenal sama yang diwakilinya.

Malah mereka mengurusi dirinya sendiri. Mereka itu mewakili atau menguasai?

Demikian juga para kyai. Mestinya mereka melayani umat tetapi kenyataannya umat lah yang melayani mereka. Kyai harus dihormati, umat boleh disepelekan. Kyai bisa  menjual umat untuk suatu kepentingan. Makin banyak umatnya, makin tinggi harga jualnya. Orientasinya, uang dan kekayaan. Maka pantaslah kalau kyai sudah tidak ditaati lagi oleh pejabat karena bisa dibeli.  ” Wong cilik kuwi nek neng ngarepe pejabat disebut rakyat, nek neng ngarepe kyai disebut umat. Posisine podho, ………. Podho rekosone……….. Mesakke ….” Demikian sang guru pernah menyampaikannya di sebuah pengajian.

Dadi pemimpin kuwi kudune jumeneng noto, njejegne negoro”. Jadi Pemimpin itu mestinya berdiri tegak di atas kedaulatan rakyat,  mengatur bangsa dan menegakkan negara. ” Pemimpin kuwi kudu bisa ngayemi, ngayomi lan nyenengake “. Pemimpin itu harus mampu memberi kesejahteraan untuk rakyat, memberi perlindungan  dan membangun suasana yang kondusif yang membuat rakyat merasa nyaman menjalani kehidupannya. Kenyataannya, para pejabat malah  menjajah rakyat, merampok harta negara. Sudah begitu, kalau rakyat ingin ketemu pejabat harus mematuhi aturan tertentu sebagai bentuk pernghormatan.  Pejabat itu orang penting, rakyat tidak penting. Mestinya pejabat yang turun melihat kondisi rakyatnya. Apakah rakyat sudah sejahtera, sudah tercukupi kebutuhannya? Jangan makan sebelum rakyatnya kenyang, jangan membangun rumah sebelum rakyat sejahtera. Pendek kata, pejabat itu harus tirakat, berani malu (karena miskin) berani miskin (karena tidak korupsi) dan berani berkorban (sebagai bentuk rasa tanggungjawab) untuk kesejahteraan rakyatnya. Itulah pemimpin sejati.

Bagi sebagian kita, mungkin berfikir “nonsens”. Mana ada orang yang mau menjadi pejabat dengan kriteria seperti itu. Tetapi, sejarah para sahabat Rasul bisa membuktikannya.  Terlalu banyak untuk diceritakan. Kalau contoh itu terlalu jauh, ambil contoh dari bumi sendiri. Banyak contoh dari  sejarah kepemimpinan kerajaan  kuno di tlatah Nusantara.

Apakah pemimpin sejati hanya untuk  masa lalu? Apakah karakter pemimpin sejati tidak akan ada lagi? Apakah Allah akan membiarkan dunia ini hancur tanpa perbaikan?…. Kurasa tidak. Salah satu Hadits Nabi mengatakan  dalam setiap abad akan ada pembaharu (mujadid).  Aku optimis suatu saat Allah akan mengangkat seorang hamba yang diberinya kekuatan untuk memperbaiki keadaan.

Pada catatan yang lalu aku menulis  bahwa sang guru kecuali suka misuh juga suka “merusak” tatanan protokoler. Tatanan protokoler yang kumaksud adalah ketentuan yang ditetapkan oleh negara untuk menjadi acuan pelaksanaan acara kenegaraan atau kegiatan yang dilakukan oleh pejabat negara.

Melalui “perusakan” tatanan itu sang guru ingin mengajari  rakyat bahwa pejabat itu bukan Tuhan, jadi jangan berlebihan. Juga ingin meengajari para pejabat agar rendah hati karena kepemimpinannya harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Maka amanah itu harus dilaksanakan dengan adil, jujur dan bertanggungjawab.

Berikut, aku ceritakan 2 (saja) peristiwa  tentang bagaimana sang guru mendobrak tatanan itu.

Suatu hari di tahun 2007 sang guru diundang ke Keraton Surakarta dan diminta menyampaikan pidato. Yang hadir tokoh-tokoh nasional termasuk orang kedua di negeri ini. Seperti biasa, beliau mengenakan busana standard kaos oblong tanpa alas kaki. Banyak orang memandang sebelah mata pada sang guru. Tetapi ketika beberapa orang yang sudah kenal termasuk kerabat keraton bersalaman dan mencium tangannya, orang mulai berpikir, “siapa dia?…”

Petugas protokoler  bertanya pada sang guru, ” bapak sudah siap?”…. ” apa  tentara, kok kon  siap?”….. “materinya apa pak?”……”ya…liat saja nanti…” ..” waktunya hanya 10 menit pak…” … ” saya tuh ndak usah diatur-atur …. sedetik saja bisa selesai…” . Sejenak kemudian petugas itu menjauh dari sang guru. Gaya sang guru yang ketus itu sejatinya menjadi penyeimbang dari “gaya wah”nya para petugas protokoler.

Tidak lama kemudian ada pemberitahuan bahwa pidato sang guru didahulukan sebelum sambutan para tokoh nasional.

Sang guru naik panggung  langsung mengucap salam, “assalaamualaikum wr wb…….”  Suaranya menggelegar dan menarik perhatian. Tentu saja para hadirin terdiam, memperhatikan. Bagi yang sudah kenal, suara itu terasa menghibur tapi bagi yang belum kenal, suara itu menyakitkan. Tidak sopan.

Berikutnya sang guru membuka pidato dengan kata-kata, “bapak………( menyebut nama jabatan orang kedua) yang tidak saya hormati…..”. Banyak mata terbelalak mendengar kata pembuka itu dan tampak risih.  Tetapi bagi yang sudah mengenal sang guru,  kata pembuka itu seperti hiburan yang menyegarkan. Dan  karena dibatasi oleh etika sopan santun maka yang terdengar adalah tawa kecil yang hanya terdengar oleh orang di sebelahnya. Sang guru melanjutkan, ” Waljinah  yang saya hormati…..  Yati Pesek yang saya hormati……. dst…. Malam itu sang guru membuat heboh suasana keraton……

Peristiwa kedua terjadi tahun 2008 di alun-alun kidul Yogyakarta. Sekumpulan pemuda Yogya menyelenggarakan acara memperingati 2 tahun tsunami Yogya. Sang guru diminta menyampaikan orasi. Yang hadir para tokoh tingkat DIY dan hadir pula Hidayat Nurwachid. Ada seniman Opick yang menyanyikan lagu-lagu religius dan Sitoresmi yang membacakan beberapa puisi.  Saat berada di panggung, beliau langsung berteriak…..kalau aku  bicara ditirukan apa tidak?…. hadirin diam dan ragu.  Pertanyaan itu diulang lagi dengan tambahan….. ” kalau tidak ditirukan aku turun…..” . Serentak para hadirin menjawab ” ditirukan….!!!”…. “lha iya, tadi Opick ditirukan, yang pidato tadi juga ditirukan….maka aku pun harus ditirukan……”  Hadirin tertawa lepas karena sang guru terkesan lucu.  Setelah reda tawa hadirin,sang guru melontarkan pertanyaan…. ” pejabat sekarang ini banyak yang baik apa banyak yang maling?…..” Serentak para hadirin yang mayoritas anak-anak muda berteriak “… maliiiiiiiiing……”. Seketika sang guru mengatakan , maliiiiiing…..  maliiiiiing……. maliiiiiing….. “dst ditirukan oleh anak-anak muda. Sementara kata-katang “maling” mengudara seorang tokoh yang hadir di arena itu ngeloyor pergi. Pemandangannya jadi lucu. Sepertinya tokoh itu melangkahkan kaki diiringi teriakan “maling…maling..” Pokisi marah kepada panitia karena  mengundang pembicara “yang tidak keruan”… Heboh sana, heboh sini. Tetapi kenyataannya ketika sang guru turun dari panggung, beliau mendapat salam dan pelukan dari Kapolda dan dari Hidayat Nurwachid.

SANG GURU ( 9 )

by Bu Wiwik on Monday, September 12, 2011 at 9:29pm

Tinggal satu pertanyaan yang belum aku sampaikan kepada sang guru, namun sebenarnya aku tidak perlu bertanya lagi karena dari pengamatanku sehari-hari aku sudah menemukan jawabnya. Mengapa beliau tidak memakai alas kaki.

Dulu ketika aku belum masuk pondok, beberapa komentar orang tentang hal itu masuk ke telingaku. Misalnya , ” titik kesaktian dia memang ada di situ ( di tanpa alas kaki itu) “. Kesaktian. Memang sang guru punya kesaktian apa ya?, pikirku waktu itu. Yang lain bertanya dengan nada naif, ” kok nggak pake alas kaki. gimana kalau najis?…”.  Kekanak-kanakan sekali pertanyaan ini, kataku dalam hati. Ternyata beliau tetap saja memakai alas kaki saat bersuci atau ke masjid. Jadi menurutku, nggak ada masalah soal alas kaki.

Tetapi, sekedar info, ada yang cerita padaku tentang alas kaki itu. Suatu hari entah kapan, sang guru mendatangi sebuah instansi pemerintah untuk satu keperluan. Seperti biasanya, beliau hanya mengenakan sendal jepit. Sebelum dilayani, petugas instansi itu melihat sendal jepit di kaki sang guru, langsung naik pitam dan menggertak, ” tidak tahu sopan santun! datang ke kantor pake sendal jepit!…. pulang dulu!…. ganti sepatu!…..”.  Sang guru bereaksi, langsung berdiri, melepas sendal jepit itu lalu melemparkannya keluar ruangan…. “pprrakk”…… Sang guru keluar dan tidak pernah kembali lagi.

Sejak saat itu konon sang guru tidak pernah memakai alas kaki. Entah kenapa…..

Tetapi, di lain waktu aku pernah mendengar beliau berkata, “kita terbuat dari tanah dan akan kembali ke tanah, tidak ada salahnya kita mengakrabi tanah tempat kita kelak dikubur di dalamnya”. …..

Bicara soal kesaktian, aku teringat pada cara kerja dukun dan paranormal. Mereka “pandai”  meramal, “pandai” mengatasi masalah, “pandai” menyembuhkan penyakit, bahkan “pandai” memenuhi keinginan pasien. Tapi semua itu ada syaratnya. Pertama, harus menggunakan benda-benda tertentu sebagai sarana, kedua harus ada mantra-mantra yang dibacanya untuk meyakinkan pasien dan ketiga harus ada  imbalannya  yaitu dibayar sesuai permintaan. Teori ekonomi pun berlaku. Makin banyak orang kebingungan dalam menghadapi masalah makin banyak dukun dan paranormal yang memasarkan diri. Jadilah dukun dan paranormal sebagai profesi yang menjanjikan. Banyak orang yang hidup kekurangan di kampung, dengan sedikit keberanian bersandiwara pergilah dia ke Jakarta jadi dukun atau paranormal. Pulang kampung sudah jadi orang kaya. Bayangkan, “jeroannya” aki yang sudah rusak dipotong-potong ukuran  2×3 cm dibungkus kain putih, dibilang “jimat”, dijual seharga 5jt rupiah per potong. Gimana nggak kaya?…..

Banyak juga orang menganggap sang guru sebagai dukun atau paranormal. Itu karena mereka datang dengan membawa masalah dan yang dia mengerti hanyalah alam perdukunan. Baginya alam gaib hanyalah jin, setan, genderuwo, banospati atau prewangan yang kesemuanya berenergi negatif. Mereka tidak mengerti atau tidak memiliki keyakinan bahwa ada malaikat utusan Allah yang bisa membantu orang-orang tertentu yang dikehenadakiNYA. Bahkan mereka mengira tidak ada orang yang memiliki kekuatan gaib kecuali dibantu oleh maskhluq-makhluq halus seperti yang aku sebutkan di atas. Maka banyak orang menduga bahwa sang guru menggunakan ilmu klenik. Kadang sang guru hanya tertawa kecil  mendengar tuduhan itu lalu berujar, ” memang fitnah dan cobaan itu makananku sehari-hari…..  makin banyak fitnah, makin sakti lah aku……”

Dan pada banyak kesempatan beliau sering berujar ” saktiku iki sakti tanpa pirantii, tanpa aji-aji….”.   Maksudnya, kesaktian beliau ini adalah sakti  tanpa sarana tanpa mantra….”

Aku merenungkan ucapan beliau yang terakhir ini lalu mencoba menelaahnya sendiri.

Hasil telaah dan pengamatanku tentang “kesaktian” sang guru adalah, kalau hati dan jiwa sudah bebas dan merdeka dari ikatan belenggu materi dunia  bukankah bel iau lebih mudah menemukan jalan kebaikan untuk “bertemu” denganNYA? Dan jika beliau bisa bertemu denganNYA bukankah itu berarti beliau bisa berteman dengan para aparatNYA? Dan jika beliau berteman dengan aparatNYA bukankah beliau bisa mengajukan usulan tentang sesuatu yang menimpa saudaranya?

Ungkapanku ini mungkin menimbulkan keraguan di hati pembaca, atau bahkan menuduhku sudah “gila” karena sudah berlebihan. Aku menyadari itu, tetapi aku tidak menemukan “hasil” yang pas tentang pengamatanku terhadap pribadi sang guru kecuali ungkapan itu….

Salah satu bentuk kesaktian sang guru dapat aku ceritakan berikut ini :

Suatu saat ada seorang artis dari Yogya yang terkapar sakit di sebuah rumah sakit swasta di kota itu. Para dokter sudah angkat tangan. Tidak ada jalan lain buat mengobati sakitnya. Pasien sudah ditutup dengan selimut putih sementara beberapa saudaranya menghadap sang guru dan meminta pertolongannya. Sang Guru diikuti oleh Pak Samuel, seorang “santri” dari Papua yang kebetulan sedang berada di pondok datang ke kamar pasien. Dibukanya selimut putih, dipegangnya jempol kaki pasien lalu diusapnya wajah pasien dan tidak lama kemudian pasien itu siuman. Hingga sekarang pasien itu  tetap  sehat dan beraktifitas kembali seperti biasa.

Pak Samuel yang telah menyaksikan sang guru “menghidupkan” orang mati makin cinta kepada sang guru. Aku tidak tahu sejak kapan dia datang ke pondok dan siapa pula yang mengajaknya. Yang jelas setiap ada acara besar di pondok dia selalu hadir di tengah-tengah kami. Sang guru pun menghormati kedatangannya seperti menghorrmati tamu-tamu lainnya. Pak Samuel sering bercerita tentang pengalamannya bersama sang guru. Dan dia  yang  beragama kristen itu berkata bahwa dia telah  menemukan yesus di sragen  ini.

SANG GURU ( 10 )

by Bu Wiwik on Thursday, September 22, 2011 at 2:47am

Orang yang datang kepada sang guru berasal dari berbagai daerah, berbagai etnik, berbagai agama,  berbagai strata sosial dan membawa berbagai masalah. Dan ketika sang guru menyampaikan sebuah petuah, wejangan atau pengajian, maka penafsiran para audien pun beragam sesuai basis kehidupan mereka. Tetapi di sisi lain, semua orang yang datang, masing-masing merasa dihormati dan disayangi oleh sang guru. Maka tidak heran bila mereka jadi “ge-er” alias gegeden rumangsan atau dalam bahasa Indonesia terlalu “pe-de” untuk menjadi yang “paling” di antara sesama santri.

Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, aku dan suami diminta hadir di masjid Lemahbang jam 3 pagi utk kemudian sholat subuh berjamaah di sana dan setelah itu ke Tuban melihat lahan  calon lokasi  masjid yang akan dibangun di sana.

Dengan penuh percaya diri dan merasa penting, kami berdua datang ke masjid itu. Tidak lama kemudian datang sebuah mobil dengan 3 penumpang. Ternyata mereka juga mau ke Tuban. Demikian juga tamu berikutnya dan berikutnya lagi hingga terkumpul sekitar 40 orang. Kami saling bertanya dan bercerita bahwa kedatangan kami sepagi ini atas perintah sang guru. Kemudian kami semua tertawa, mentertawakan diri sendiri karena ternyata kita punya “posisi” yang sama dan sama-sama ge-er…..

Tetapi jangan salah sangka, bahwa jika sang guru menerima kedatangan semua orang tanpa pandang agama dan status lalu diartikan sebagai  membenarkan semua agama. Tidak. Terhadap perbedaan agama beliau lebih sering mengajarkan “lakum diinukum waliyadiin” .   “Bagimu agamamu, bagiku agamaku.” . Atau ” laa ikrooha fid diin”, tidak ada paksaan dalam meyakini agama.Tetapi pada sisi lain beliau juga mengajarkan “inna diina ‘inda Allah ‘l Islam”… Agama yang ada di sisi Allah adalah Islam. Islam adalah rohmat untuk semesta alam dan karena itu harus bisa merengkuh, mengayomi dan mendamaikan  agama lainnya. Bukan memusuhi mereka. Mereka harus tunduk kepada nilai-nilai Islam yang  kita ejawantahkan pada kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, kita membuat orang tertarik pada Islam karena kebaikannya. Kita harus bisa menjadi contoh bagaimana menjadi muslim yang benar. Dalam hal ini sang guru sudah memberi banyak contoh kepada para santri. Sang Guru menjalani kehidupannya sesuai nilai-nilai Islam baik kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial. Sambil berseloroh beliau sering berucap, ” aku sudah ittiba Nabi….. Nabi petani, aku juga petani…. Nabi pengusaha, aku juga pengusaha…..yang belum, Nabi jadi pejabat tapi aku masih jadi rakyat biasa…..”

Lebih jauh   sang guru mengajarkan, “inti  agama itu adalah taat dan taubat kepada Tuhan”. Menjalankan agama artinya menjalankan  ketaatan dan pertaubatan kepada Tuhan. Dua kata itu harus beriringan karena taat saja tanpa taubat bisa menumbuhkan kesombongan religius karena  orang lupa pada kesalahan atau kekhilafannya sendiri. Sebaliknya kalau hanya taubat saja tanpa mentaati perintahnya sama dengan bohong.  Tuhan hanya satu dan agama mestinya juga hanya satu. Kalau kenyataannya agama menjadi banyak, itu kan karena penafsiran manusia menurut akal dan penghayatannya sendiri. Mestinya Al Qur’an juga jangan ditafsir-tafsirkan. Kita menafsirkan ucapan orang lain saja belum tentu benar, kenapa harus menafsirkan “ucapan Tuhan?”.

Akibat dari penafsiran itu maka timbul kelompok-kelompok yang masing-masing merasa paling benar. Lalu mereka saling berdebat, saling menjatuhkan bahkan pada akhirnya saling membunuh. Agama bukan lagi sebagai “pendamai” antar manusia, bukan lagi petunjuk ke arah penghambaan kepada Tuhan  malah menjadi pencetus kekerasan antar manusia dengan mengatasnamakan Tuhan.

Ilmu itu ada 4 tingkatan, begitu kata sang guru  di hari-hari pertama  aku masuk pondok. Saat itu aku sama sekali tidak memahami maksudnya. Kalimatnya singkat seperti ini, ” paling rendah, ilmu tumbuh-tumbuhan, di atasnya ilmu kitab, ilmunya kyai, terus ilmu ukur – ilmunya para wali dan nabi dan yang paling tinggi, ilmu alam, ilmunya Tuhan”….  tanpa penjelasan lebih detil dan aku tidak berani bertanya atau lebih tepatnya ” tidak bisa” bertanya.

Pada kesempatan yang lain, beliau mengulang pelajaran itu dengan sedikit penjelasan. Ilmu tumbuh-tumbuhan itu wujud lakunya adalah binatang. Ilmu kitab natap-natap (mentok),  ilmunya kyai dan para alim ulama, kalau kitabnya dicuri orang dia tidak bisa mengajar. Ilmu ukur, ilmunya para wali dan nabi, mereka selalu tepat mengukur mana yang haq dan mana yang batil. Ilmu alam, ilmunya Tuhan, ilmu yang sangat luas dan berlaku untuk seluruh jagad raya.

Seiring dengan berjalannya waktu dan semakin seringnya  aku mendengar keterangan itu di beberapa kesempatan, aku mulai mencoba memahaminya. Tentu saja pemahaman menurut versiku. Aku tidak tahu apakah orang lain akan sepaham denganku.

Tingkatan pertama, ilmu tumbuh-tumbuhan dengan perilaku hidup seperti binatang. Tumbuh-tumbuhan adalah unsur alam yang diawali dengan biji  yang tertanam lalu dengan proses alam dia tumbuh sedikit demi sedikit, pada waktunya dia berbunga, dan pada saat berikutnya dia akan  berbuah. Setelah itu dia menjadi tua,  layu, kering dan mati.  Manusia yang hanya sampai pada ilmu tumbuh-tumbuhan dia akan berlaku seperti binatang lalu melahirkan sifat ego yang besar, nafsi- nafsi alias ” loe-loe, gue-gue”..Manusia itu ” hayawanun natiq” – binatang berakal.

Jika pemahamanku ini aku kembangkan lagi, maka akan aku temukan kualitas hidup manusia yang seperti ini, ” lahir, dewasa, kerja, kawin, punya anak, punya harta, selesai…..” tidak ada sentuhan nilai yang lebih tinggi dari itu. Sama dengan ayam atau kambing yang setiap pagi pergi cari makan, kalau sudah kenyang pulang, tidur, dan begitu seterusnya. Aku sering mendengar sang guru menyebut seseorang dengan “pitik” – ayam. Mungkin karena hidupnya hanya untuk mencari makan dan menimbun harta duniawi.

Ilmu kitab, natap-natap, ilmunya para kyai, kalau kitabnya hilang dia tidak tahu apa-apa, tidak bisa menyampaikan ilmunya.

Menurut pemahamanku,  kata “kyai” dan “kitab” dapat diperluas maknanya sebagai berikut: Kyai adalah alim ulama, dan para cerdik cendekia, para intelektual dan akademisi yang dasar-dasar pemikirannya menggunakan logika dengan syarat tertentu seperti ” sesuatu disebut ilmu jika…..”, atau ” sesuatu dinyatakan  logik jika…..” atau bahkan ” sesuatu dinyatakan benar jika…..”. Kemudian kata “kitab”  adalah buku, naskah, transkrip atau apa saja yang berbentuk dokumen yang diposisikan sebagai ” sumber ilmu” atau “referensi” atau ” dasar berpendapat”…

Pada taraf ini manusia hanya berkutat pada wacana-wacana saja. Hanya beradu argumentasi, berdebat mencari “kebenaran” dan karenanya dia berada di “menara gading”. Susah membumi.

Sang guru sering berucap, ilmu kitab  natap-natap. “Natap” adalah kata dalam bahasa Jawa yang artinya “terbentur”, dalam makna “mentok” , tidak dapat diteruskan. Pemahamanku tentang hal ini adalah, ilmu kitab tidak akan dapat menyelesaikan masalah, tidak dapat memberikan solusi pada persoalan hidup manusia secara global.

Sering sambil berseloroh sang guru berujar, ” kalau kyai nggak bawa kitab nggak bakalan bisa mengajar…… kalau aku, sambil merem aja bisa kok”….. Beliau bukan bermaksud menyombongkan diri melainkan memberitahu bahwa ilmu dalam kitab dan buku itu tidak seberapa, maka jangan sombong dengan tingginya pendidikan atau gelar akademis yang sudah diraih dan ditulis di depan atau di belakang namanya.

Ilmu ukur. Waktu sekolah di bangku SMP aku mendapatkan pelajaran ilmu ukur yaitu pelajaran tentang bentuk-bentuk yang terukur dan rumus-rumusnya. Ketika sang guru mengucapkan kata “ilmu ukur” seketika aku ingat pelajaran itu. Tetapi ternyata sang guru menambahkan kalimat, “ilmu ukur, ilmune para nabi para wali. Para Nabi lan Wali mesti pas ukurane soal haq lan batil”…. Ilmu ukur menurut sang guru adalah ukuran tentang haq dan batil. Tinggi sekali.

Dalam kehidupan nyata aku mendapati banyak fenomena yang memang masih perlu dipertanyakan apakah hal itu benar atau salah.

Banyak kyai yang “berdakwah” pasang tarip, benar apa salah? Banyak kyai yang memotong-motong ayat Qur’an lalu dijual sebagai jimat atau mantra, benar atau salah?. Banyak orang mendirikan lembaga bimbingan haji lalu menarik keuntungan dari  para calon haji dalam melakukan ibadahnya, benar atau salah? Banyak biro perjalanan haji dan umroh yang ramai-ramai “memasarkan” ibadah umroh sehingga umroh menjadi ibadah yang “trendy”, benar atau salah? Ada pencuri besar lalu membagikan hasil curiannya untuk fakir miskin yang kelaparan, benar atau salah? Ada orang yang ibadahnya sehari-hari biasa saja, tetapi untuk kegiatan sosial dia luar biasa, benar atau salah? Banyak ustadz yang tampil  menjual ilmunya dengan gaya artis dan selebritis, benar atau salah?. Banyak fenomena kehidupan yang rancu di sekitar kita dan kita tidak dapat berbuat apa-apa.

Terhadap kenyataan ini sang guru pernah bercanda dengan memplesetkan kata ” jamaaaah……” yang biasa diucapkan seorang ustadz di sebuah tivi swasta dengan kata ” unthuuuuuk…….”. “Unthuk” adalah kata dalam bahasa Jawa yang artinya “busa” – “buih”…

Bukankah Rasul pernah bersabda yang artinya kurang lebih, ” di zaman akhir nanti, Islam tinggal seperti buih….kelihatan besar dan menarik, tetapi sebenarnya kosong melompong tidak ada isinya sama sekalli…. …….”

SANG GURU (11)

by Bu Wiwik on Tuesday, September 27, 2011 at 1:37pm

Tingkatan ilmu yang tertinggi adalah ilmu alam, ilmunya Tuhan.

Tentang ilmu alam sebagai ilmunya Tuhan, sang guru belum pernah memberikan penjelasan apapun baik secara pribadi maupun secara umum saat pengajian. Tidak, sekalipun hanya sebaris kata seperti pada ilmu yang lain. Dalam ilmu tumbuh-tumbuhan sang guru menambah ” lakunya seperti binatang”. Dalam ilmu kitab sang guru menambah ” natap-natap”…. Dalam ilmu ukur sang guru menambah “ukuran haq dan bathil”.  Sedang untuk yang satu ini, hanya  “ilmu alam ilmunya Tuhan”… titik.  Maka sulit bagiku untuk menuliskannya walaupun dalam ruang pikir dan jiwaku,  aku mengerti.

Namun demikian, aku melihat kehidupan sang guru dalam keseharian baik ucapan  kalimatnya, ungkapan pikirannya atau perilakunya selalu dekat dengan alam. Bahkan dapat dikatakan alamiah sekali. Tidak ada rekayasa, tidak ada basa basi. Semua lugas, tuntas dan jelas. Termasuk saat beliau salah ucap atau salah tangkap.

Dalam hal bangunan pondoknya, semua bahan alami, tidak ada bahan hasil rekayasa. Dalam hal makanan, beliau masih setia dengan segala sesuatu yang direbus atau digoreng. Beliau tidak suka  menyantap makanan hasil rekayasa. Demikian juga proses pekerjaan. Dalam bertani beliau tidak menggunakan pupuk buatan melainkan pupuk alami atau pupuk organik. Bahkan dalam banyak hal beliau sering menggunakan bahasa alam.

Ketika ada seorang santri yang mengeluhkan anaknya yang lemah, cengeng dan sangat perasa, sang guru memberinya nasehat,” kon mangan jangan bung sing akeh,” –  ” suruh makan sayur bung yang banyak “. Yang dimaksud dengan sayur bung adalah sayur  rebung, pangkal bambu yang masih muda. Sayur rebung adalah salah satu masakan khas orang Jawa. Orang yang masih awam tentu akan melakukan nasehat  itu apa adanya.

Tapi apakah nasehat sang guru itu harus ditelan mentah-mentah ? Benar-benar makan sayur rebung?….. Tidak. Yang beliau maksud dengan makan sayur rebung adalah melatih dan  mengajari anaknya dengan sesuatu agar hatinya  kuat dan tegar seperti  “kuat dan tegarnya bambu” .

Di suatu sore ba’da ashar aku dan suami berada di pondok dan kami ngobrol bertiga di ruang tamu. Langit mendung, angin bertiup perlahan dan tak lama kemudian hujan turun dengan deras. Ruang tamu menjadi setengah gelap tanpa lampu. Halilintar menyambar-nyambar dengan suara menggelegar seolah berada di atas kepala. Kami bertiga sama-sama diam membisu. Tak lama kemudian sang guru berkata, ” bu wiwik pernah berdzikir menyebut asma Allah dengan keras tapi tanpa suara?……” . Kami berdua saling berpandangan. Beliau melanjutkan, ” jantung kita berdetak keras dengan irama tegap melafalkan Allah….Allah…. Allah…..”. Kami berdua menundukkan kepala. ” usahakan bisa melakukan itu, suara halilintar itu tidak sebanding kerasnya dengan suara dzikir kita di hati…..”.

Beliau sangat menghargai dan menghormati kehidupan. Menurutnya, tidak ada hak bagi suatu makhluk untuk membunuh makhluk lainnya. Itu haknya Tuhan. Manusia hanya bertugas merawat dan menjaga kehidupan. Kecuali “pembunuhan” yang berlangsung sesuai ekosistem. Bahkan ekosistem harus terjaga demi tegaknya  keseimbangan alam.

Pernah di suatu siang ba’da dzuhur, aku dan  suami menghadap sang guru dan diterima di serambi masjid Mahbang. Kami bertiga duduk di serambi bagian utara sehingga tidak banyak orang lewat. Kami ngobrol tentang berbagai hal. Sementara itu datang serombongan semut berbaris melewati tempat kami ngobrol. Sang guru memperhatikan barisan semut itu lalu berkata, ” pindah ke sini bu wiwik, di situ ada semut lewat….. “. Beliau menggeser posisi duduknya beberapa meter ke samping. Kami mengikuti beliau. Semut pun diperlakukannya dengan sopan.

Pada kesempatan yang lain ada peristiwa, sebuah bus pariwisata yang akan parkir di halaman rumah makan menabrak pohon mangga yang tumbuh di halaman depan masjid.  Batang pohon itu patah persis di bagian tengah. Maklum pohonnya masih “remaja”. Mendapat laporan tentang hal ini sang guru segera datang ke halaman masjid lalu mendekati pohon itu. Beberapa menit beliau jongkok di samping pohon , entah apa yang dilakukannya. Tetapi mengingat bahwa sang guru biasa ” bercakap-cakap dengan alam” , aku menduga saat ini beliau sedang ” menghibur dan mengobati luka hati pohon itu”. Tidak lama kemudian sopir bis itu dipanggilnya. Dengan suara datar  beliau mengingatkan sopir itu, ” Sebelum pergi meninggalkan lokasi ini kamu harus pamit sama pohon ini”…. sambil menunjuk ke arah pohon yang pucuknya sudah terkulai  ke bawah.

Setelah bis itu pergi, dengan menitikkan airmata sang guru mencabut pohon itu perlahan-lahan lalu membawanya  ke halaman belakang. Beliau kembali ke halaman depan dengan membawa sebatang pohon mangga yang lain dan menanamnya di tempat semula sebagai pengganti.

Memang, di sekeliling masjid beliau menanam beberapa pohon mangga, pohon kersen (talok) dan pohon lainnya dari jenis pohon berbuah.  Semua tumbuh dengan subur kendati di musim kering seperti saat ini. Mungkin aku terkesan berlebihan. Tetapi, memang begitulah kenyataannya.

Tentang pohon dan tanaman sang guru sering memberi nasehat kepada kami semua, ” senanglah bercocok tanam tetapi kalau sudah berbuah jangan marah kalau buahnya diambil  orang……

Nasehat itu menyadarkan kami bahwa kami hanya bisa menanam, dan sama sekali tidak punya kemampuan untuk menumbuhkan atau memberinya buah. Jadi sudah semestinya kalau buah itu dihalalkan untuk siapa saja yang membutuhkan. Sejatinya, buah itu milik Allah.

Sang guru juga menghalalkan semua buah dari pohon yang ditanamnya baik di halaman masjid Mahbang maupun di halaman pondok plososrejo. ” Silakan ambil, ndak usah minta ijin ….halal…” kata beliau suatu saat. ” ….tetapi tentu saja jangan membuat kerusakan…. petik dengan cara yang benar dan tunggu sampai matang…”

Lebih jauh beliau menerangkan, ” kita harus berterimakasih kepada tanaman, kepada pohon-pohonan. Mereka dengan rutin memberi manfaat kepada kita. Padahal antar sesama manusia saja belum tentu saling memberi manfaat.  Pernahkah kalian mengucapkan terimakasih kepada padi saat kita makan nasi? Atau berterima kasih kepada kedelai, bayam , kangkung, jagung dll yang setiap saat kita makan?. Kita, bangsa manusia ini memang serakah dan sombong.

Beliau menjalin persahabatan yang erat dengan alam. Terbukti, ketika terjadi tsunami di Aceh tahun 2004, beliau bersama keluarga melakukan puasa setiap hari sepanjang 2 tahun. Ketika akan memberi perintah untuk berhenti puasa , mendadak terjadi gempa di Yogya tahun 2006, maka puasa itu tidak jadi berhenti alias dilanjutkan lagi hingga setahun ke depan. Perintah puasa ini hanya untuk keluarganya, tidak untuk para santri atau pengikutnya.

Bagi orang yang “syariat minded” pasti akan bertanya, ” apa ada tuntunannya, puasa kok tiap hari?”…..  Menurut pemahamanku puasa yang dilakukan sang guru dan keluarganya  itu adalah puasa tirakat sebagai bentuk “toleransi” kepada alam yang sedang murka.

Beberapa kali beliau menjelaskan, ” Kalau seorang pemimpin curang dan tidak memegang amanah, maka alam yang akan murka. Bersatunya tanah, air, api dan udara adalah bencana…”.

SANG GURU ( 12 )

by Bu Wiwik on Friday, October 7, 2011 at 3:21am

Jika perjalananku mengikuti langkah Sang Guru diumpamakan seperti nelayan yang sedang mencari ikan, maka aku adalah nelayan kecil yang sederhana dengan jala yang kecil pula. Padahal di lautan itu aku melihat ribuan ikan berseliweran di sekitarku dan bermacam-macam pula bentuk dan warnanya. Karena keterbatasanku  maka hanya sedikit ikan yang dapat kutangkap. Aku sadar setiap orang  punya takarannya sendiri. Karena itu  aku harus ikhlas menerima kenyataan.  Aku  tetap bersyukur karena  dari yang sedikit ini  aku dapat menikmati perjalanan yang indah, nyaman dan menyenangkan.

Dari yang sedikit itu setidaknya  ada 2 pelajaran mendasar yang telah kufahami dan aku coba menjalaninya  semampuku. Pertama pelajaran tentang tauhid yang bersih dan lurus. Kedua tentang ringan dan longgarnya  hati dalam bersedekah atau melepaskan sebagian dari harta yang kita miliki untuk kepentingan orang lain. Dua hal ini terpateri dalam satu slogan ” masuknya nafas taat dan taubat, keluarnya nafas badan menguntungkan orang lain”.

Tentang tauhid yang bersih Sang Guru sering memberi contoh kepasrahan total dan mutlak kepada Allah Azza wa Jalla. Pernah dalam suatu perjalanan naik bus umum dari Sragen ke Yogya di tahun 2004 saat aku menjalani kuliah S2, aku kehilangan dompet yang berisi uang 200ribu dan beberapa kartu identitas lainnya. Tentu saja aku kelimpungan dibuatnya. Sebagai bentuk curhat aku kirim sms kepada isteri  Sang Guru yang lalu dijawab oleh Sang Guru  dengan kalimat bahasa Jawa yang artinya, ” jangankan  cuma uang bu wiwik….. nyawa saja kalau Allah kehendaki tentu harus kita serahkan….”. Beberapa saat aku terhenyak. Oho…. Ya Allah, betapa kerdilnya jiwaku……  Aku langsung sadar, beliau memang benar, kehilangan itu cuma persoalan kecil…..”. Aku kembali mengirim jawaban dengan ” inggih….inggih……”

Kemurnian tauhidnya juga beliau tunjukkan dengan anjuran untuk tidak banyak meminta atau menuntut kepada Allah sekalipun Allah memberi hak kepada manusia untuk meminta. Manusia sudah dicukupi dan dilengkapi kehidupannya sesuai takarannya  masing-masing. Harta kekayaan, kedudukan dan usia kehidupan. Tinggal manusia itu sendiri yang harus tekun belajar dan bekerja keras untuk mendapatkannya. Hanya satu hal yang dianjurkannya  meminta kepada Allah (karena tidak ada satu pihakpun yang punya kewenangan untuk itu) yaitu  Ridlo Allah dan ampunanNYA. Kalau Allah tidak memberi kita ridlo dan ampunan maka apa jadinya diri kita di akhirat nanti.

Sepertinya pelajaran  itu berbeda dengan pelajaran dari guru lain yang selalu menganjurkan banyak-banyaklah berdoa. Tetapi bagiku, berkat anjuran untuk tidak banyak menuntut dan meminta kepada Tuhan (walaupun kita punya hak  dan karena Tuhan sudah mencukupi kebutuhan hidup kita) dapat menumbuhkan rasa percaya diri yang tinggi bahwa aku pasti bisa. Juga menumbuhkan keyakinan yang kuat bahwa Allah pasti membantu kita. Dan aku yakini, pertolongan Allah itu datang pada saat yang tepat di mana kita sudah mentok tidak menemukan jalan keluar sama sekali.

Sang Guru  pernah memberi perintah padaku  untuk sholat dzuha 4 rokaat setiap pagi.  Tapi di ujung perintahnya ada tambahan kalimat ” tapi jangan minta rejeki…” . Aku mengerti. Dan aku mentaati perintahnya. Allah sangat pemurah. Berapa besar nilai rupiahnya jika kita menghitung kelengkapan hidup yang diberikan Allah kepada kita. Dari ujung rambut hingga ujung kaki berikut komponennya. Berapa pula besarnya nilai alam sekitar untuk kehidupan manusia. Belum lagi besarnya rejeki kita jika kita menghitung keberuntungan kita dengan pasangan hidup kita, anak dan cucu kita, mata pencaharian kita, kedudukan kita,….. Semuanya tidak ternilai. Maka rasa syukur itu dapat menghentikan kita dari meminta kepada Allah. Malu, rasanya. Sudah diberi sedemikian banyak kok masih meminta terus…. Dan kalau dipenuhi satu permintaan maka akan muncul permintaan yang lain. Tak ada habisnya. Harta duniawi itu akan membuat kita haus sepanjang masa.  Maka,  kepada Allah aku hanya diperintah untuk memuja, tidak ada lain. Kalau guru lain menganjurkan banyak-banyaklah berdoa, Sang Guru mengajarkan banyak-banyaklah memuja.

Lalu mengapa Sang Guru melarangku dari meminta rejeki kepada Allah saat sholat dzuha. Hal ini dapat kumengerti karena banyak buku tuntunan sholat yang mencantumkan doa sholat dzuha dengan permohonan rejeki seperti ” bila jauh, dekatkanlah, bila di langit  turunkanlah, bila di bumi  tumbuhkanlah dst…..”

Banyak orang menganggap sholat dzuha adalah sholat  minta rejeki. Padahal sholat adalah sarana penghambaan diri  kita kepada Allah. Demikian juga ibadah haji, puasa dan yang lainnya. Jangan dicampur adukkan antara penghambaan diri  kepada Tuhan dengan usaha pemenuhan kebutuhan duniawi. Nanti jadi rancu.

Banyak juga terjadi, orang berdoa yang mestinya meminta tetapi berubah posisi menjadi memerintah atau menyuruh dan mendikte Tuhan.

Ada orang yang memberiku predikat sombong karena tidak mau berdoa minta rejeki. Padahal bagiku justru aku merendahkan diriku serendah-rendahnya di hadapan Allah. Tidak berani meminta dan sudah merasa cukup dengan apa yang Tuhan berikan  padaku. Tetapi aku mengerti, itu hak mereka untuk mengatakan apa pun terhadapku. Karena aku yakin Allah Maha Tahu isi hati hambanya.

Pemujaan dan penghambaan diri kepada Allah tidak hanya dalam bentuk ritual formal, melainkan dalam setiap tarikan nafas hidup kita. Pada catatan yang lalu sudah kutuliskan bagaimana “sumpah” Sang Guru yang disampaikan di hadapan jamaah pengajian, ” jika ada waktu sedetik saja aku melupakanmu Ya Allah, matikan saja aku”.  Atau catatan yang lainnya lagi, “….kerasnya dzikir kita menyebut Allah…Allah….di hati,  membuat suara halilintar yang menggelegar itu tidak terdengar….”

Kalau pelajarannya seperti itu, maka dapat aku simpulkan bahwa dalam setiap aktifitas fisik kita sepanjang hidup selalu dibarengi dengan dzikir batin, kontak dengan Allah swt. Secara fisik kita bekerja, secara batin hati kita terpaut kepadaNYA. Begitulah pemahaman yang aku peroleh dari Sang Guru. Dengan begitu, aku mendapatkan suasana yang selalu tenang baik dalam kondisi yang baik maupun dalam kondisi yang buruk. Ketika kita berusaha mencapai sesuatu, secara fisik kita bergerak untuk meraihnya dan secara batin kita kontak dengan Sang Maha Penentu.  Jadi, ketika usaha itu berhasil kita tidak akan sombong, dan ketika kita gagal kita pun tidak kecil hati. Karena dua jalan hidup sudah kita sinergikan dalam kegiatan itu. Kalau cara ini sudah membudaya dalam diri kita, kita akan terhindar dari sikap sombong, riya, pamer, atau sebaliknya, kecil hati, sakit hati dan patah hati.

Aku rasakan, ternyata pelajaran tauhid itu menumbuhkan sikap positif dalam menjalani hidup dan menguatkan hati kita untuk menerima kenyataan dengan kebesaran  jiwa. Ada perpaduan optimisme yang tinggi sekaligus kesabaran hati yang mendalam.

SANG GURU ( 13 )

by Bu Wiwik on Saturday, October 15, 2011 at 4:49am

Waktu aku masih kecil Ibu sering mengajariku untuk biasa berbagi dengan teman. Kalau mau ke sekolah Ibu mewanti-wanti, ” kalau jajan lihat teman di sebelahmu, jangan makan sendirian…”. Demikian juga saat bermain bersama teman, harus selalu berbagi makanan atau apa saja yang kita punya. Di dalam rumah bersama adik dan kakak, demikian juga. Untuk pelajaran ini kecuali “ceramah”,  ibu juga memberi contoh bersedekah seperti menyediakan aiir minum kendi di depan rumah, memberi makan pengemis langganan dsb.  Tetapi di sisi lain Ibu juga  mengajari kami untuk tidak boleh atau tidak gampang kepengin terhadap milik orang lain. Jangan suka minta dan jangan gampang minta-minta, karena meminta itu berarti merendahkan martabat sendiri. Jangankan “minta” , nemu barang saja kami tidak boleh mengambilnya. Boleh mengambil tapi harus diberikan kepada orang lain lagi. Tidak boleh memiliki. Sebenarnya sejak  saat itu Ibu sudah punya prinsip “keperwiraan itu harus dibangun sejak dini”.

 Setelah dewasa, aku mendapati pelajaran itu dari Sang Guru. Persis. Jadi, bagaimana aku tidak mengikuti langkah Sang Guru kalau apa yang diajarkan itu merupakan lanjutan dari pelajaranku di masa kecil. Diam-diam aku sering bersyukur bahwa aku berada dalam bimbingan kebaikan. Sang Guru tidak hanya bicara tetapi langsung memberi contoh. Dalil-dalil yang bermakna tinggi beliau terjemahkan ke dalam bahasa sederhana seperti ” ngrogoh kanthong dikekke uwong”… “ambil uang di saku, kasih ke orang”….. ” uwong sing menehi kuwi plus, nek diwenehi kuwi minus” – “orang yang memberi itu nilainya plus, kalau diberi nilainya minus”…..  ” durung jeneng disebut apik nek uwong kuwi durung wani menehi wong liyo” – ” belum bisa disebut baik kalau seseorang itu belum berani memberi kepada orang lain”……

Begitulah Sang Guru mengajariku ” ringan dan longgar hati dalam  melepas harta milik kita untuk keperluan orang lain”.

 Di pondoknya, Sang Guru punya banyak siswa yang mengikuti pendidikan di madrasah dan tidur di asrama. Kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga tidak mampu, tidak harmonis atau keluarga yang berpendidikan rendah. Pernah Sang Guru berkelakar ” anak-anak yang ikut di sini kan mereka yang bodoh, miskin dan nakal…… Orang-orang tua itu mau enaknya sendiri. Anak yang pintar, yang baik di sekolahkan di tempat lain kalau yang nakal, yang bodoh dikirim ke sini”.

Untuk mereka Sang Guru memberi fasilitas ruang tidur, kebutuhan air dan listrik serta makan 3x sehari. Siswa yang mampu ditarik iuran Rp 340.000 / bulan termasuk biaya pendidikan atau SPP. Siswa yang dianggap mampu tidak sampai 50% dari total siswa yang berjumlah sekitar 400 orang.  Kebutuhan rutin Sang Guru dalam sebulan bisa mencapai 3 ton beras, belum dihitung bahan lainnya, juga listrik dan airnya. Ini salah satu bentuk “sodaqohnya” Sang Guru. Beliau sering menyebutnya dengan  kata “lelabuhan”  – pengorbanan.

 Belum lagi di setiap pengajian malam Jum’at Paing dan malam Ahad Legi, yang hadir bisa ratusan orang. Semua makan, walaupun hanya dengan lauk urap sayuran dan kerupuk. Taruhlah, kalau harga makanan itu Rp 10.000/ porsi dengan jumlah hadirin 500 orang sudah mencapai Rp 5 juta. Kalau pengajian itu berlangsung 2x dalam selapan hari, dan 10 lapan dalam setahun maka bisa mencapai Rp 100 juta per tahun. Pengajian ini sudah berlangsung selama 25 tahun. Biasanya Sang Guru berseloroh, …. pengajian sudah 25 tahun, nggak pake panitia, nggak pake  sumbangan, semua senang, semua lancar…….gimana?….. hehehe….. (pertanyaan ini tidak untuk dijawab)…..

 Pada saat ulangtahun pondok  Sang Guru menggelar berbagai acara hingga 10 hari lamanya. Dimulai malam Jumat Pahing dengan pengajian rutin dilanjutkan keesokan harinya berupa pertandingan olahraga antar kampung atau perlombaan kesenian baik antar pemuda kampung maupun antar siswa dan santri di pondok ini. Ada juga lomba tayub antar bapak-bapak di sekitar kampung itu. Tayub di pondok ini jauh dari gambaran maksiat seperti yang banyak dilihat orang. Semua penari adalah laki-laki dengan pakaian blangkon yang sopan dan gerakan tari yang lembut.

Pedagang kakilima entah darimana, datang ke desa ini untuk menggelar dagangannya. Suasana ulangtahun semarak di seluruh desa seperti pasar malam. Kegiatan ekonomi masyarakat di kampung ini langsung meningkat seiring dengan munculnya warung makan di beberapa rumah. Tempat penitipan sepeda dan sepeda motor langsung bisa menggelembungkan isi kas Karang Taruna setempat. Puncak acara dilaksanakan malam ahad legi dengan dihadiri para tamu dari berbagai kota dan dari level rakyat  hingga orang-orang berpangkat.

Acara ini pun tidak ada panitia tidak ada sumbangan. Dalam hal ini Sang Guru sering berkelakar ” aku panitia tunggal.. ketua merangkap segala-galanya….. hehehe…..”

 Tetapi di luar acara-acara yang secara jelas menjadi fenomena “sedekah luar biasa” , aku pernah menyaksikan bagaimana Sang Guru “tercatat dalam hati seorang pedagang kecil di Waduk Kedungombo karena telah memborong semua dagangan ikannya saat dia nyaris  putus asa”.

 Hari itu Sang Guru mengajakku bersilaturrohmi ke rumah seseorang di wilayah pantura. Kami hanya bertiga. Aku, Sang Guru dan seorang sopir. Dari Sragen kami menyusuri jalan alternatif lewat Kedungombo. Di atas waduk yang sudah menjadi daerah wisata itu beliau minta berhenti lalu kami jalan kaki menuju ke deretan warung yang berdiri di tepi waduk.

“Kita beli oleh-oleh dulu bu wiwik…..” kata Sang Guru sambil menuju ke sebuah warung ikan yang siap melayani kami. Ada ikan-ikan yang sudah siap dibakar dan dimasak sesuai selera, ada juga ikan yang masih segar. Sang Guru memilih 5 ekor ikan yang siap dibakar tapi tanpa bumbu. Aku berdiri disampingnya tanpa berbuat sesuatu. ” oleh-oleh yang bagus itu ikan atau buah-buahan……” kata Sang Guru sambil menyerahkan ikan pilihannya kepada pedagang untuk dibakar. Dia seorang wanita muda antara 30-40 tahun. Setelah itu Sang Guru mengunjungi warung sebelah. Aku tetap di warung itu menunggu proses pembakaran.

 Dari tempatku duduk terdengar suara tawa terkekeh-kekeh dari beberapa wanita tua yang sedang melepas sisik ikan. Mereka bekerja sebagai tukang “mbetheti” ikan alias membersihkan kotoran ikan. Rupanya Sang Guru nimbrung di sana sambil “menghibur” mereka. Tak lama kemudian wanita pemilik warung yang ada di hadapanku, yang sedang sibuk menyalakan api berkata padaku , ” Bapak itu…. , saya pernah ketemu,…. tapi di mana ya?…..” . Dia mencoba mengingat- ingat sesuatu. ” Pernah bertemu di mana bu?.” aku mencoba menanggapi pertanyaannya. ” Beliau itu guru saya… …” Sepertinya dia tidak mengerti maksud jawabanku dengan kata “guru” tetapi perhatiannya lebih cenderung ingin mengingat kembali di mana dia pernah bertemu Sang Guru. ” tapi bener-bener saya pernah ketemu dia…..”, kata-kata itu diulangi seperti hendak menyakinkan aku. Beberapa saat kami saling terdiam. Aku  sibuk memperhatikan gerak tubuhnya saat menyalakan api di tungku….

 Tiba-tiba dia melompat meninggalkan tungku itu dan melangkah ke warung sebelah lalu dengan  perlahan mengintip Sang Guru dari belakang. Beberapa saat dia memperhatikan wajah Sang Guru. …..” ooohh…. sekarang saya ingat….dia ini yang tempo hari mborong ikan saya ….., iya… iya…. betul… betul…..tidak salah lagi….”. Lalu dia kembali mendekati  tungku sambil bercerita padaku dengan bahasa Jawa yang artinya , ” Sepanjang hari itu lokasi wisata ini sepi pengunjung.  Mungkin karena awan mendung. Sampai sore dagangan saya masih banyak. Dengan sepeda onthel saya pulang membawa bronjong yang penuh ikan.  Waktu itu saya sedang hamil. Saya ingin nangis rasanya. Tapi gimana lagi,namanya juga mencari nafkah untuk keluarga.  Suami saya  bekerja sebagai buruh bangunan di luar kota.

Sesampai di palang kereta Sumberlawang saya berhenti. Ada kereta yang akan lewat. Gerimis yang turun pelan-pelan mulai membasahi tubuh saya. Dingin. Tidak berapa lama ada mobil kijang yang berhenti di samping sepeda saya. Seorang bapak langsung turun dan bertanya tentang dagangan saya. Transaksi berlangsung cepat dan beberapa menit kemudian semua ikan saya berpindah tempat ke dalam mobil itu….. Plong, rasanya… Saya pulang membawa uang. Kesedihan saya sirna. Saya bersyukur kepada Tuhan”.

Ketika cerita itu aku konfirmasi kepada Sang Guru, beliau kelihatan dingin saja sambil berkata, ” kebaikan yang dilakukan untuk orang kecil akan bertahan lama di hatinya….”

 Di sebuah perjalanan yang lain aku menyaksikan lagi peristiwa yang membuatku terharu alias trenyuh.

Sekitar pukul 7 petang kami pulang dari Purwodadi. Kami berempat waktu itu. Naik kijang juga. Sang Guru duduk di depan, aku di belakang berdua dengan temanku dan seorang teman lagi pegang kemudi.

Di tengah jalan, entah di daerah mana tiba-tiba Sang Guru minta berhenti. Kami saling bertanya, ” ada apa? “. Karena tidak sabar menunggu di mobil aku turun dan mendekati Sang Guru. Rupanya ada seorang pria naik sepeda onthel yang akan menjual hasil  kebunnya ke pasar kota. Saat aku datang transaksi itu sudah selesai. Terbukti, 2 bronjong kacang panjang itu segera pindah ke dalam mobil. ” Bu wiwik, tolong dibayar sayur ini 15 ribu…..” . Mendengar perintah itu, langsung saja aku keluarkan lembaran uang 20 ribuan. ” Tidak ada kembalinya……” kata pria itu…. ” oh nggak apa- apa pak…. silakan ambil saja ……” jawabku dengan senang hati.

Di dalam mobil Sang Guru berkata, ” dia pasti akan bahagia sekali sesampai di rumah….. tidak harus capek sampai ke pasar dagangannya sudah habis.  Belum lagi uangnya banyak. Dia tawarkan 13ribu, kita beli 15ribu, dibayar 20ribu. .”

Kami semua terdiam……

SANG GURU ( 14 )

by Bu Wiwik on Thursday, October 20, 2011 at 2:57pm

Aku pernah membaca sebuah “surat pembaca” di Majalah Sabili. Sayang aku tidak mencatat edisi nomor berapa dan tanggal berapa terbitnya.  Aku juga tidak memperhatikan, siapa nama pengirimnya dan di mana alamatnya. Satu hal yang tercatat di benakku adalah esensi masalah yang dituliskannya. Dia mengungkapkan  “ketidak sukaannya sekaligus kritik”  terhadap Pondok Pesantren Nurul huda yang memperingati ulangtahunnya dengan menggelar dangdutan. (mudah-mudahan Sabili masih punya arsip tentang hal ini). Sekarang, surat pembaca itu menjadi inspirasi untuk menulis catatan kali ini.

Wajar saja orang tidak suka jika sebuah pondok menggelar dangdutan sebab gambaran yang melekat dalam pikiran banyak orang adalah bahwa pondok pesantren itu haruslah ”  mencitrakan sebuah  image  yang bagus-bagus, yang suci-suci…”  sedangkan dangdutan adalah ” sebuah gambaran yang mencitrakan murah,  kotor dan dosa” . Tapi, benarkah demikian?…….

Maka, beda sekali antara orang yang tahu dan orang yang tidak tahu. Beda sekali orang yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri  dan orang yang hanya “katanya, …katanya….”  ( hhmm…. tiru-tiru gayanya orang yang ngomong di televisi…..).

Dalam memperingati ulangtahun pondoknya, Sang Guru selalu menggelar berbagai hiburan rakyat. Bukan hanya dangdutan. Ada wayang kulit, reog Ponorogo, Gandrung Banyuwangi, Klenengan Purworejo, Kasidah Nasyida Ria, Lawak Yati Pesek cs, dan Campursari Pengamen. Masing-masing menggunakan panggung tersendiri sehingga kampung ini dipenuhi oleh panggung hiburan. Tontonan itu digelar gratis dan bebas, tidak usah bayar. Rakyat tinggal nonton saja. Dan Sang Guru tidak menutup pintu untuk orang-orang yang mengambil kesempatan mengais rejeki di malam peringatan ulangtahun itu. Pedagang kaki lima berdatangan entah dari mana memenuhi gang-gang sempit di Desa Plosorejo. Permainan anak-anak seperti komidi putar atau “dremolen” ( permainan yang muternya ke atas) juga ada di kompleks pondok.  Pedagang bakso, makanan dan minuman juga bermunculan di area itu. Suasana kampung itu seperti pasar malam. Organisasi Pemuda Karang Taruna juga diuntungkan oleh kegiatan ini. Mereka membuka lahan penitipan sepeda, sepeda motor dan mobil.

Rangkaian kegiatan ulangtahun biasanya dimulai malam Jum’at pahing berupa pengajian khususiyah. Kemudian dilanjutkan acara berikutnya hingga 10 hari ke depan dan berakhir pada hari H yaitu Sabtu Kliwon malam Minggu Legi. Sabtu pagi jam 6  tepat dilaksanakan Upacara Bendera yang diikuti oleh seluruh keluarga pondok dan tamu yang hadir. Selesai upacara dilanjutkan  dengan menyanyikan lagu-lagu Nasional sambil membentuk lingkaran seperti permainan anak jaman dulu yang kita kenal dengan “jamuran”. Setelah menyanyi  barulah kendali acara dipegang langsung oleh Sang Guru. Biasanya beliau berpidato membakar semangat para santri untuk tetap di jalur kebenaran, membangun keberanian dan menjaga kesucian. Selain itu beliau juga mengundang perwakilan tamu untuk menyampaikan sambutan. Ada dari kalangan pejabat, seniman atau pendatang dari daerah lain dan tidak lupa dari kalangan politisi. Dalam momen ini para santri dari luar Jawa juga berdatangan. Mereka adalah santri lama yang sekarang bermukim di luar Jawa.  Masing-masing mereka dipanggil dan diberi waktu antara 3 – 7 menit untuk berbicara di depan umum. Oh iya , perwakilan Motor Antik juga hadir dan pasti diberi waktu. Sekitar jam 11 rangkaian upacara itu selesai. Peserta upacara bubar dilanjutkan acara menurut selera masing-masing. Dalam kesempatan ini biasanya Sang Guru berkeliling  “menyapa” para pedagang kecil, pemilik  warung dan penjual jasa permainan anak yang bermunculan  di sekeliling pondok.

Ba’da ashar atau  sekitar jam 4 sore dilaksanakan lomba tayub. Pesertanya adalah bapak-bapak yang sudah tua dengan pakaian beskap dan blangkon. Gaya jogednya lembut perlahan. Gamelannya pun lembut perlahan. Tidak ada penari wanita di acara itu. Suasana tayub di pondok ini jauh dari gambaran maksiat yang selama ini melekat di benakku. Dan mungkin melekat juga di benak banyak orang. Dulu kalau aku mendengar kata  “tayub” maka yang muncul di ingatanku adalah nama sebuah desa yang gersang di wilayah utara kabupaten Sragen. Tayub adalah tarian lelaki dan perempuan yang beradu sensualitas dan memancing syahwat. Untuk menyemarakkan suasana tayub  panitia atau tuan rumah akan menyediakan  minuman keras. Lengkaplah suasana maksiat itu. Adakalanya ( menurut kabar burung ) tayub itu akan diakhiri dengan sebuah transaksi antara penari wanita dengan pria yang menginginkannya.

Jam 5 sore lomba tayub selesai. Sang Guru akan mengambil mik dan memberi komando kepada seluruh tamu yang hadir “silakan makan” dan setelah makan semua sholat maghrib di masjid. Selesai sholat maghrib semua diminta duduk di kursi yang sudah disediakan di depan panggung utama.

Setelah sholat maghrib, Sang Guru berdiri  di panggung utama untuk menyampaikan orasi. Tidak jauh berbeda dengan orasi saat upacara pagi, intinya memotivasi seluruh hadirin untuk mempertahankan kebenaran, meningkatkan keberanian dan menjaga kesucian. Di tengah-tengah orasinya kadang-kadang Sang Guru juga menyelipkan ajakan ” ngrogoh kanthong dikekke uwong” dengan peragaan dan lagu yang khas,  di iringi suara gamelan yang membahana.

Sambutan dari para tokoh, mulai dari tingkat RT sampai tingkat Nasional yang hadir diberi waktu walaupun hanya 3 menit. Tamu  yang unik juga diberi waktu untuk memberi sambutan  seperti Pak Samuel dari Papua dan Naomi dari Jepang.   Di antara deretan sambutan kadang diselingi dengan lawakan dan tarian dari grup lawak Markaban dan Yati Pesek atau Cak Dikin dan istrinya dan kadang juga ada grup tari dari  Banyuwangi.

Acara yang langsung dipimpin oleh Sang Guru ini selesai sekitar jam 22.00 lalu diserahkan kepada dalang Enthus Susmono dari Tegal untuk menggelar Lakon Wayang Kulit.

Sepanjang pengamatanku selama hampir 10 tahun terhadap acara-acara kesenian di pondok  ini aku mendapatkan pelajaran sebagai berikut :

(1) Pagelaran wayang kulit tidak sampai subuh seperti kebanyakan pagelaran wayang yang lainnya. Sang Guru mengajarkan tidak boleh mengganggu kewajiban sholat subuh. Paling lambat jam 2 dini hari lakon wayang harus selesai.

(2) Bentuk “tayub” yang sangat berlawanan dengan norma dan kebiasaan tayub lainnya.

(3) Penyanyi dangdut harus berbusana muslim menutup aurat. Musik dangdut dibuat sepanggung dengan musik kasidah.

(4) Grup Campursari Pengamen tidak boleh menampilkan pemain atau penyanyi wanita.

(5) Semua kegiatan pasar malam baik pagelaran musik maupun penjaja dagangan harus sudah berhenti pada jam 24.00.

(6) Sepanjang acara , tidak pernah ada kerusuhan. Aku pernah mendengar Sang Guru naik panggung campursari untuk menyapa pengunjung. Ucapan beliau antara lain begini, ” pripun sedulur-sedulur….. sami seneng nopo mboten?”. Penonton menjawab ” seneng……”. –  ” aman nopo mboten?…” – mereka menjawab lagi,” amaaaan.?”.

Sang Guru mengakhiri tanya jawab itu dengan ungkapan kata yang bernada nasehat , ” nek ora ana sing mendem yo mesti aman…”  ( kalau tidak ada yang mabuk pasti aman )……

Dari pelajaran yang kuperoleh itu aku menyimpulkan sendiri, rupanya Sang Guru sedang melaksanakan dakwah melalui kegiatan kesenian yang disukai oleh masyarakat. Beliau tidak melarang berkesenian  tetapi efek buruk dalam gelar kesenian itu yang harus  dihapuskan.

Hal lain yang tercatat di hatiku tentang kebiasaan Sang Guru setelah acara “pesta rakyat”  itu selesai  adalah, dibereskannya semua urusan dan penataan sehingga segala sesuatu kembali seperti semula. Semua barang pinjaman dikembalikan, seluruh halaman dan lokasi dibersihkan. Esok pagi saat adzan subuh berkumandang kondisi pondok dan sekitarnya normal seperti sediakala. Tidak ada tanda-tanda bahwa semalam ada “pesta”.

SANG GURU ( 15 )

by Bu Wiwik on Monday, October 24, 2011 at 7:24pm

Pada tahun pertama aku ikut kegiatan pondok, sering sekali aku mendengar komentar sinis tentang Sang Guru. Di bawah ini aku kutipkan beberapa komentar dari beberapa orang yang berbeda dan dari beberapa  kesempatan yang berbeda pula.

” Bu wiwik itu kok bisa-bisanya ikut dia?…. orang tidak berpendidikan….”.

” Kita ini sarjana-sarjana….. masak manut sama kyai yang kita nggak tahu di mana ngajinya….”

” Kalau cari guru itu mbok lihat-lihat….. apa dia pantas jadi guru apa tidak….”

” Memang dia itu mondoknya di mana sih?……”

” Bukannya bu wiwik lebih pinter daripada dia?……”

” Berani taruhan, kalau dia bisa ngaji, tak kasihkan  semua kekayaanku….( ungkapan Jawa ” tak wenehno sak leker genthongku)”

 Aku menduga,  komentar itu muncul karena wawasannya yang sempit yang memahami pendidikan hanya dari bangku sekolah atau pondok pesantren. Dia tidak melihat ada pendidikan alam. Allah, dalam posisinya sebagai Tuhan Pencipta dan Penguasa Alam, juga sebagai pendidik bagi makhluqnya. Aku juga melihat, komentar itu muncul karena karakternya yang sombong, merasa dirinya paling pintar dan paling baik sehingga tidak mudah mengakui orang lain itu “pintar dan baik”. Yang model begini bisa juga karena dia tidak jujur terhadap dirinya sendiri atau iri karena ada orang lain yang lebih pintar atau lebih baik.  Dan yang ketiga, aku melihat komentar itu muncul karena dalam kerangka berfikirnya dia lebih didominasi oleh penglihatan dan penghayatan fisik. Citra fisik yang buruk berdampak pada pemikiran dan penilaian yang buruk juga.

Kadang aku menaruh iba kepada Sang Guru. Kok bisa-bisanya mereka memberi komentar demikian buruknya kepada Sang Guru. Padahal aku melihat sesuatu yang istimewa dalam dirinya. Aku melihat keindahan akhlaq dibalik penampilannya. Aku melihat kecerdasan dibalik kesederhanaannya. Aku juga melihat kepasrahan kepada Tuhan dibalik kerja kerasnya. Anehnya beliau sendiri  tidak pernah marah atau tersinggung oleh komentar-komentar buruk itu. Dan memang,  hanya orang-orang  kecil yang mempermasalahkan hal-hal kecil.  Beliau punya motto ” halangan, rintangan, ujian dan cobaan adalah konsumsi harian. Fitnah dan lawan adalah hiburan…”.

Jadi, aku melihat beliau, sepertinya, “biarlah segala sesuatu berjalan menurut ukurannya…..”

Namun di luar itu semua, aku tetap saja ingin mencari tahu bagaimana perjalanan hidupnya selama ini. Melalui obrolan dengan istrinya, adik kandungnya dan beberapa teman masa kecil dan teman lamanya yang pernah hidup bersama di perantauan aku mendapatkan cerita seperti ini :

Sang Guru lahir di Desa Plosorejo Kecamatan Gondang Kabupaten Sragen pada tahun 1961 ( versi lain tahun 1959). Menurut adiknya yang saat ini bekerja di kantin pondok, beliau adalah anak yang “beda” dari saudara lainnya.  Misalnya, pada musim kering penggunaan air sangat dibatasi. Air dipisahkan antara air untuk mandi dan air untuk konsumsi.  Beliau tidak mau mengikuti aturan itu sehingga air untuk konsumsi pun dipakainya untuk mandi. Tidak peduli saudaranya marah, beliau tidak mau mandi dengan air “kotor”. Demikian juga soal makan dan minum. Semua anak diberi jatah piring seng tetapi beliau maunya  piring beling yang bagus.

Dari teman masa kecilnya yang sekarang buka warung di pinggir jalan dekat pondok, ada cerita bahwa saat masih sekolah di SD (dulu SR) ada pembagian susu gratis seminggu 2 kali. Ibu guru selalu menyerahkan tugas membagi susu itu kepada Sang Gurul. Anak-anak yang lain tinggal antri membawa cangkir yang sudah disiapkan dari rumah masing-masing.

Pada usia 10 tahun beliau meninggalkan rumah. Menurut cerita, sesudah sembuh dari khitan, suatu malam atau tepatnya saat dini hari beliau dibangunkan dan diajak pergi oleh  seorang kakek tua  berjubah hijau. Esok paginya terdengar kabar bahwa beliau “hilang” dari kampung Plosorejo. Berkaitan dengan hal ini Sang Guru pernah menyampaikan kisah bahwa ketika kecil ditugasi oleh ibunya untuk menggembala kambing, kemudian ganti kerbau, kemudian ganti lagi dengan sapi. Ibunya menjanjikan kalau sapinya sudah melahirkan, maka beliau akan mendapatkan seekor anak sapi. Tetapi ketika tiba saatnya sapi itu melahirkan, ibunya mengingkari janji. Beliau kecewa lalu  pergi dari rumah.

Beliau menjalani pengembaraan dengan kondisi tanpa nama, tanpa bekal dan tanpa surat identitas. Dengan kondisi seperti itu, beliau dilarang meminta-minta. Kalau ada orang yang memberi, beliau hanya boleh mengambil sebagian saja. Beliau juga menjalani “laku mbisu lan mbudeg”  –  pura-pura bisu dan pura-pura tuli.

Beberapa kota dan wilayah yang pernah disinggahi bahkan bermukim selama waktu tertentu antara lain Kediri, Surabaya, Madura, Banten, Jakarta  dan beberapa kota di luar Jawa. Bahkan ada cerita pada tahun 1979 beliau berada di Spanyol. Pernah juga bermukim di beberapa hutan belantara yang salah satunya adalah Alas Purwo di Banyuwangi. Selama di hutan beliau makan dan minum dengan daun dan buah serta air yang ada di hutan. Untuk membedakan  buah yang aman dan yang beracun beliau belajar dari ulah binatang di sekitarnya. Dan karena bergaul dengan binatang beliau juga tahu bedanya bekas cakaran harimau apakah horizontal atau vertikal. Kalau bekas kuku harimau itu horizontal maka dia dalam posisi siap menyerang.

Pekerjaan yang pernah dijalani  juga beragam. Pernah menjadi tukang  becak, kernet angkot,  kuli bangunan, kuli angkut di pasar, kuli angkut  di pelabuhan , pedagang mainan anak-anak, dan buruh tani atau buruh perkebunan.

Beliau juga berguru kepada beberapa “orangtua”. 3 nama yang sering aku dengar langsung dari beliau adalah Mbah Mualip dari Kediri, Mbah Hamid dari Kajoran Magelang dan Mbah Marzuki dari Yogya.

Mbah Mualip Kediri punya keistimewaan antara lain suka nraktir orang di rumah makan. Kalau kebetulan beliau makan di rumah makan maka semua orang yang sedang makan di tempat  itu ditraktir semua. Beliau juga gemar bagi-bagi uang. Temanku yang pernah diajak Sang Guru sowan Mbah Mualip pernah bercerita, dia ditawari uang tunai sebanyak dia mau. ” mau uang?….” tanya Mbah Mualip. Temanku tidak menjawab. ” ambil tuh di lemari…” kata Mbak Mualip lagi sambil menunjuk sebuah lemari di ruang tengah rumahnya. Temanku bergeming. ” coba buka lemari itu…lihat…” Temanku berjalan mendekati lemari itu. ” buka saja…” kata Mbah Mualip lagi saat melihat temanku kelihatan ragu. Lalu temanku membuka lemari itu. Dia terkejut bukan main. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Dia melihat tumpukan uang ratusan ribu  yang masih baru bahkan masih diikat dengan kertas identitas sebuah bank. ” ambil…..”  kata Mbah Mualip lagi. Dengan gemetar temanku menjawab, ” mboten….mboten…..” sambil menutup  lemari itu lalu melangkah kembali ke tempat duduk semula.

Mbah Mualip juga suka sekali memberikan barang atau sesuatu yang dimilikinya jika suatu saat diinginkan oleh seseorang. Misalnya, dia pakai baju bagus, lalu ada orang yang tertarik, langsung baju itu dilepasnya dan diberikan kepada orang itu.

Mbah Hamid  Kajoran Magelang. Aku tidak mendengar sesuatu tentang beliau kecuali bahwa  Mbah Mangle, tokoh politisi PPP di tahun 80-an adalah salah satu muridnya. Dari suamiku yang kebetulan pernah juga berguru ke sana aku mendengar suamiku menirukan  kata-kata Mbah Hamid ” saiki ora ana wong iman Ron, sing ana kyai endog kabeh….”

Kemudian pada suatu kesempatan aku diperkenalkan oleh Sang Guru dengan salah seorang putrinya yang tinggal di Yogya yang saat itu sedang berkunjung ke pondok. Dia adalah isteri  Kyai Daldiri (alm) Hafidzul Qur’an yang biasa semaan di Keraton Yogya.

Pada kesempatan yang lain di tengah obrolan tentang banyak hal, Sang Guru pernah berucap ” dia dapat anaknya, aku dapat ilmunya”. Maka ada yang mengatakan, pelajaran dari Sang Guru ini banyak yang mirip dengan pelajaran dari Mbah Hamid.

Mbah Marzuki Yogya, menurut beliau adalah kyai yang keras dan tegas dalam pendirian. Dari beliau Sang Guru mendapatkan pelajaran tentang politik pemerintahan. Beliau tidak segan-segan menempeleng kyai atau tokoh yang ada di hadapannya jika kepribadiannya buruk.  Mbah Marzuki adalah gurunya Hamengku Buwono IX dan juga gurunya Bapak Suharto (alm).

Ada lagi cerita tentang Sang Guru yang aku dapatkan dari teman yang  sama-sama bekerja di sebuah  perkebunan di Lampung. “Sepanjang yang saya kenal dia itu orang yang baik.  Kalau bicara dia selalu mengajak ke arah kebaikan. Perilakunya juga baik. Tidak pernah menyakiti hati orang lain. Jika terjadi konflik atau perdebatan dia  lebih sering mengalah.” …..  ” Dia sangat disiplin menjalankan ibadah sholatnya. Sholat wajib, sudah pasti. Sholat  malam tidak pernah dilewatkannya. Setiap menjelang tidur dia  menyiapkan air dalam kendi  untuk persediaan wudlu. Maklum, jarak bedeng kami dengan sumur cukup jauh. Ketika bangun di tengah malam, saya dibangunkan pula, lalu dia minta tolong agar saya  membantu  mencurahkan air kendi itu untuk wudlu. Saya tidak bisa menolak. Walaupun dengan setengah ngantuk saya  laksanakan juga permintaannya.  Tapi saya  ikhlas . Saya tahu itu ibadah kepada Allah. Anehnya, setelah tugas saya  selesai saya  tidur lagi.”…… ” kadang saya juga heran, tahu ada kebaikan kok saya tidak mau mengikutinya …..hehehe….. mungkin karena saya memang bukan kelasnya…..”

 Ada lagi cerita yang bisa menggambarkan tentang kedisiplinan Sang Guru  terhadap sholat. Teman ” seprofesinya” itu bercerita,…” waktu itu malam Kamis, kami berangkat  menuju ke areal perkebunan yang jaraknya hampir 10 jam jalan kaki.  Kamis pagi di areal perkebunan  kami bekerja seharian. Malamnya, karena khawatir terlambat sholat Jum’at esok siangnya,  dia tidak mau istirahat seperti teman lainnya, melainkan langsung pulang lagi jalan kaki semalaman. Memang, masjid yang digunakan untuk sholat Jum’at hanya ada dekat lokasi bedeng kami…. dia tidak mau ketinggalan sholat Jum’at “….

15 tahun setelah mengembara Sang Guru kembali ke kampung halaman. Itu dilakukannya untuk memenuhi perintah para gurunya. Kampung Plosorejo “geger” karena mengira anak kecil yang dulu hilang itu sudah mati. Beliau kembali dengan rupa dan tingkah laku yang jauh berbeda dari orang-orang di sekitarnya.  Beliau “babat alas” mendirikan Pondok Pesantren Nurul huda yang sekarang sudah berusia 26 tahun. Sedikit demi sedikit, kampung yang semula ” gelap karena budaya maksiat ” menjadi terang. Gurunya Sang Guru yang dulu memberinya perintah untuk pulang dan mendirikan pondok pesantren, satu demi satu ” dipanggil  ke-haribaan Allah Yang Maha Rohman dan Maha Rohim”.

SANG GURU 16

March 19, 2012 at 5:01pm

Sesudah  Sang Guru 15 terbit pada tanggal 24 Oktober 2011, aku berhenti menulis. Sebenarnya masih ada 2 materi yang ingin kutulis sebelum mengakhiri tahapan itu. Salah satunya adalah  tentang pembangunan alun-alun yang diberi nama SASANA TANPA KANYANA-NYANA. Tapi entah kenapa aku merasa berat menuliskan hal itu. Jadilah, Sang Guru  15 itu yang terakhir.

 

Kunjungan Menteri Agama RI Bapak Suryadarma Ali ke pondok Nurul Huda pada tanggal 24 September 2011 menyisakan beberapa pe-er untukku. Teman-teman Kepala Madrasah se Jawa Tengah dan pejabat lain dalam lingkungan Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah banyak mengajukan pertanyaan tentang keberadaan pondok pesantren yang unik tersebut terutama tentang pengasuhnya yang  mereka sebut sebagai kyai yang nyentrik.

Untuk menjawab pertanyaan itu aku berinisiatif mencetak Sang Guru 1-15 lalu mengcopynya untuk kemudian  dibagikan kepada Kepala Madrasah yang hadir  pada acara  perpisahanku akhir Nopember 2011. Aku memasuki masa pensiun pada tanggal 1 Desember 2011.

 

Melihat hasil copian yang sederhana itu,  suamiku berkomentar, ” kalau mau ngasih orang itu usahakan yang bagus….”.   Maka Sang Guru dicetak ulang dengan desain yang lebih menarik. Cover depan memuat gambar masjid yang kokoh dengan ilustrasi langit biru berpadu awan putih. Di bagian bawah gambar lokasi Pondok Pesantren dikelilingi pohon-pohon yang rindang. Di latar depan gambar  alun-alun yang luas dipadu foto Sang Guru yang mengenakan baju kebesarannya yaitu kaos lorek hitam putih dengan syal yang menggantung di lehernya, topi laken dan kacamata hitam. Tentang syal aku ragu menyebutnya begitu karena bentuknya bukan kain/tekstil melainkan seperti untaian benang berwarna putih dan tebal. Cover belakang memuat gambarku diikuti dengan beberapa “doktrin”  – ini hanya untuk santri-  yang menjadi pelajaran mendasar bagi kami semua. Laku lahir patang perkoro : 1) wong bodo koyo kebo 2) wong pinter keblinger 3) wong ngerti gampang lara ati 4) weruh ora kena njupuk duweke liyan….. Laku batin patang perkoro 1) waskito 2) hutomo 3) sampurno 4) mukso/slamet. Hablumminallah mlebune nafas taat taubat, hablumminanas metune nafas raga nguntungke wong liyo. Manajemen, prihatin, sosial, berani dan tanggungjawab. Ojo neko-neko, ojo leno ojo nakal. Laku utomo nguntungke wong liyo. Kapan aku dadi wong apik?…. Kabeh mau ngunduh wohing pakarti. Ayo manut Wali, Nabi, Gusti.

 

Sementara itu kegiatan pondok semakin padat karena menghadapi ulang tahunnya yang ke 26 yang jatuh pada tanggal 3 Desember 2011. Sebagaimana tahun sebelumnya, setiap ulangtahun selalu ada bazar yang menjual produk hasil karya para santri. Nah, saat itulah muncul  ide untuk “menjual”  Sang Guru dengan maksud memberi penjelasan kepada masyarakat tentang pribadi Sang Guru yang unik yang memang tidak mudah dipahami. Di sisi lain orang tidak mau bertanya atau mencari tahu tentang Sang Guru seperti yang aku lakukan. Padahal apa yang mereka tanyakan sama dengan apa yang aku tanyakan. Segera saja ide itu diwujudkan. Kami mencetak 1000 exp.

Penjualan buku itu tidak berorientasi pada keuntungan. Cukup untuk biaya cetaknya saja sebesar Rp 5000,- . Tetapi ketika ada orang yang hanya punya uang Rp 3000,- kami serahkan juga. Bahkan akhirnya banyak yang kami berikan dengan gratis.

 

Yang kemudian menarik perhatianku adalah tanggapan pembaca yang sangat variatif…..

Waktu pertama kali aku menulis Catatan Sang Guru aku tidak punya pretensi apapun. Satu-satunya dorongan yang muncul di hatiku adalah aku ingin menulis. Terpikir olehku, apa kegiatan yang paling layak kulakukan setelah pensiun nanti?  Itu pertanyaan yang harus dicarikan jawabnya. Lalu aku mencoba menggali kembali potensiku menulis yang sudah lama tumpul. Sebelumnya aku sudah mencoba beberapa kali  menulis tapi tidak pernah enak dibaca. Baru setelah aku menulis Sang Guru, ideku mengalir deras tak terkendali. Aku seperti berselancar di alam kenangan karena yang kutulis adalah pengalaman nyata. Karena itu apapun komentar orang tentang tulisan itu tidak terlalu penting bagiku. Kalau ada orang yang senang membaca tulisan itu lalu bisa mengambil manfaat darinya, aku ikut senang dan bahagia. Sebaliknya, kalau ada yang menganggap itu jelek dan tidak menarik bahkan untuk membuka bukunya pun tidak mau, maka sama sekali aku tidak terluka.

album foto



Abah Syarif Bersama Mabes Browijoyo V Sragen

Rombongan Mabes Browijoyo V Sragen Saat HUT PPNH ke 26


Abah Syarif saat pidato di acara HUT PPNH ke 26 setelah upacara sangat sakral


Abah Syarif saat HUT PPNH KE-27

upacara sangat sakral pembina upacara gus jogo

pemimpin upacara gus bombong

Pak Akbar Tanjung & Abah Syarif saat HUT PPNH KE-27

saat berpidato di depan para santri

suasana HUT PPNH KE-27

Pak Kapolres Sragen

Pak Samuel dari Papua

Panggung Dangdut

wayangan ki enthus susmono

salah satu backhoe milik Ponpes Nurul Huda saat melakukan aktivitas penambangan di Merapi

dan gunung tugel

mesin pembuat paving menjadi mainan sehari-hari santri

armada bis milik pondok

Rumah Makan Nurul Huda yang berada di Jl. Raya solo-ngawi KM 7 lemah bang sambungmacan sragen

Suryo mojopahit, bukti bahwa kerajaan majapahit adalah sebuah kerajaan islam dan Beliau Abah Syarif adalah penerus trah Browijoyo V Raja terakhir kerajaan Majapahit

Berikut adalah Foto-foto Pondok Pesantren Nurul Huda

Kegiatan Santrine NH Pekalongan, saat-saat pertama pembersihan makam Mbah Gombol Pekajangan, Pekalongan

para santri saat membersihkan makam

kondisi makam mbah Gombol setelah selesai dibersihkan

Santrine NH yang dapat berkomunikasi secara langsung dengan Beliau Mbah Gombol, mas Didi saat pamit pulang

Makam tidak dikenal yang ditengarai sebagai makam ajudan (santri setia) dari mbah Gombol, yang kemudian diketahui adalah makam dari K.H Basyari dari Tegal, dari makam ini yang tersisa hanya 1 batu Nisan dan belum diketahui apakah ini nisan bagian kepala atau kaki

Bisa dibayangkan betapa berat proses pembersihan makam ini jika nisan yang tersisa adalah bagian kaki, karena telah tertutupi dapuran Pring, tetapi ternyata makam Beliau K.H Basyari berada disebelahnya dan nisan yang tersisa adalah bagian kepala

Makam Suryo Mentaram

Posisi Makam setelah dipindahkan

makam setelah direnovasi

Santrine NH bersama warga sekitar makam bergotong royong menguruk area makam

Santrine NH dari luar kota juga ikut ambil bagian

anak-anak juga tak mau ketinggalan

para santri bekerja disamping mas Didi yang sedang melaksanakan tirakat selama 3 hari 3 malam

Masjid yang dibangun Abah Syarif di Ring Road Palur Karanganyar

Masjid Lemah Bang

Masjid Bani Adam Boyolali

Candi Cetho peninggalan Prabu Browijoyo V

Rombongan Mabes Browijoyo V di Candi Cetho

sebuah replika ka`bah di bagian teratas candi merupakan bukti bahwa ini adalah peninggalan islam dan Prabu Browijoyo V sendiri adalah murid dari Sunan Kalijogo

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.