Sing Mbahurekso Ponpes Nurul Huda
Abah Syarif Hidayatulloh Hadiwijoyodiningrat
Jumeneng Noto
Ojo Dumeh Wong Bakale Mati …
Duwe Bekal Opo ?
Kabeh Iku Ngunduh Wohing Pakerti …
Laku Utomo Nguntungake Wong Liyo …
Minimal Gak Ngrugekne Wong Liyo …
Ojo Neko-neko, Ojo Leno, Ojo Nakal …
Kapan Aku Dadi Wong Apik ?
Tulisan tentang Beliau
Abah Syarif Hidayatulloh Hadiwijoyodiningrat
Sang Penyelamat Umat dan Bangsa
Edisi Perdana
Menyambut Ulang Tahun Pondok Pesantren Nurul Huda ke-25
Plosorejo, Gondang, Sragen, Jawa Tengah
Indonesia
diterbitkan oleh
Santrine´
MUQODDIMAH
Aku berlindung kepada Alloh dari godaan syaithon yang terkutuk. Dengan asma Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan, akibat ulah tangan manusia. Salah satu kerusakan itu adalah carut-marutnya kondisi sosial-politik, sosial-ekonomi dan sosial-keagamaan di Indonesia dewasa ini. Rakyat Indonesia kini sedang merindukan seorang satrio (pemimpin) yang mampu menyelesaikan masalah besar bangsa. Budaya politik Indonesia di era reformasi tidak mengalami perubahan yang mendasar untuk memperbaiki keadaan masyarakat menuju Indonesia yang berkeadilan sosial. Untuk kebebasan pers mungkin agak mencapai kemajuan daripada di masa regim Orde Baru, tetapi ke arah penegakan hukum masih jauh. Dengan demikian pejabat, birokrat, aparat maupun pengusaha yang sewenang-wenang dan curang, masih berlenggang kangkung. Posisi orang-orang yang taat beragama terpinggirkan, karena ajaran agama dianggap mencetak orang menjadi sok suci.
Model kepemimpinan Nusantara masih bersifat transaksional, yaitu cenderung melestarikan status quo atau kemapanan. Misalnya calon pejabat dan birokrat cenderung memanfaatkan posisinya untuk kepentingan pribadi dan golongannya. Kini nurani wong cilik yang diwakili Abah Syarif Hidayatulloh, pimpinan Ponpes Nurul Huda, Plosorejo, Gondang, Sragen bicara apa adanya tentang kondisi sosial-kemasyarakatan Indonesia.
Beliau memiliki ciri-ciri pemimpin yang transformasional, yaitu lebih mengutamakan perubahan visi-misi dan strategi kebangsaan maupun kenegaraan yang inovatif, kreatif dan progresif. Beliau siap berjuang demi agama, bangsa dan negara tanpa basa-basi. Menurut beliau manajemen adalah kerja nyata, bukan bicara basa-basi seperti yang terjadi pada kebanyakan pemimpin Indonesia dewasa ini. Sepantasnya Abah Syarif Hidayatulloh jumeneng noto pascakepemimpinan Indonesia yang keenam. Beliau memiliki ilmu rasa yang diaplikasikan dalam kehidupan, sehingga suara fakir-miskin dan orang-orang yang teraniaya bersemayam di hatinya.
Santrine´
Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu
Sang Penyelamat Umat dan Bangsa
Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu (pemimpin sekaligus ulama yang terbimbing wahyu) ini merupakan sosok pemimpin mendatang yang diharapkan menyelamatkan umat dan bangsa.
Pinandhito Sinisihan Wahyu
Pinandhito sinisihan wahyu bisa dikatakan sebagai ulama yang sudah mencapai puncak ajaran ma’rifat. Artinya, Alloh menjadi pendengarannya ketika ia mendengar; Alloh menjadi penglihatannya ketika ia melihat; Alloh menjadi tangannya ketika ia bertindak. Wajar jika kehendaknya sebagai penjelmaan kehendak Tuhan. Sosok pemimpin inilah yang akan hadir di Nusantara pascakepemimpinan yang keenam, sesuai jangka Ronggowarsito.
Manunggaling kawula-Gusti1) sebenarnya bukanlah istilah yang berkonotasi sesat. Oleh karena itu tak salah jika dikatakan bahwa pemimpin yang akan datang adalah sosok pandhito yang telah “manunggal” dengan Tuhan. Pemimpin tersebut memahami dan mengamalkan tasawuf.
Apa itu Tashawwuf (tasawuf)?
Ta’ berarti taubat; shad berarti pembersihan jiwa dan hati; wawu berarti wilayah (kewalian) dan fa’ berarti fana. Seorang sufi harus bertaubat, membersihkan jiwa dan hati dari sumber penyakit, yaitu syirik di dalam jiwa dan hatinya yang berujung pada duniawi. Terciptalah keheningan hati dan jiwanya, dengan dzikrulloh yang diucapkan lisan dan meresap ke dalam hati. Fanalah segala sesuatu dalam dirinya selain Alloh (fanaillah) sehingga lebur dan larut ke dalam sifat-sifat ketuhanan.
Sebagian orang Islam kini antipati terhadap tasawuf, karena sikap ketergesaannya dalam menilai ilmu tersebut. Sikap ketergesaannya itu mungkin disebabkan pengamatannya yang sekilas tentang sufi (pelaku tasawuf) yang “tak sesuai” dengan kitab Alloh dan sunnah Rosul-Nya. Ada sufi yang menyimpang, tapi ilmu tasawuf tidak demikian halnya.
Tasawuf bukanlah sebuah ilmu rahasia yang penuh misteri atau sulit dipahami. Semua orang pada dasarnya membutuhkan tasawuf, dan tasawuf diperuntukkan bagi manusia. Tasawuf bukan untuk golongan masyarakat tertentu. Hanya saja olah rasa dan nalar masing-masing orang tidak sama dalam menyikapi ilmu tasawuf.
Ali bin Abu Tholib, sahabat Nabi yang paling sering dijadikan rujukan sufistik. Beliau pernah ditanya,”Punyakah Anda wahyu selain yang tersurat dalam Al-Qur’an?”
“Tidak,” jawab Ali,”saya tak tahu hal itu selain pemahaman terhadap Al-Qur’an yang Alloh berikan kepada seseorang berikut pengertian kandungan mushaf tersebut.” (HR. Bukhari, Tirmidzi, Abu Daud, Nasai dan Ahmad).
Dalam khazanah tasawuf asma “Alloh” boleh diganti dengan yang lain, karena “Alloh” hanya menunjukkan Dzat Ilahi. Dalam beberapa thoriqot (tarekat) sering para guru memutuskan nama Alloh yang berbeda bagi masing-masing muridnya, sesuai keadaan dan kemampuan ruhani sufi. Asma Alloh bisa berubah menjadi Gusti, Dzat Maulana, Sang Hyang Widhi, Pangeran, Gusti Allah dan sebagainya.
Tanda-tanda Pemimpin yang ngamandhito
Tahun 2011 genap seabad perjalanan kebangkitan politik di Indonesia sejak dirintis Bapak Politik Indonesia, HOS Tjokroaminoto (1883-1934). Dalam masa seabad umat Islam pasti mengalami titik beku dalam pengamalan ajaran Islam, sehingga Alloh memunculkan seorang mujaddid (pembaru). Tjokroaminoto ketika itu sebagai mujaddid, pembaru dalam membimbing umat Islam.
Konon singkatan HOS bukan semata-mata kepanjangan dari Haji Oemar Said, tapi lebih bermakna “Habib Oemar Said.” Kata “Habib” berkonotasi sebagai waliyulloh (kekasih Alloh). Di masa mudanya, nampak tanda-tanda kepemimpinan beliau yang menonjol. Pada 1911 Tjokroaminoto membentuk organisasi sosial-keagamaan, SI (Sarekat Islam). Ketika itu beliau masih berusia 30 tahun. SI berkembang pesat, sehingga memiliki anggota yang tersebar di seluruh Indonesia. Penjajah Belanda pun curiga, sehingga SI dianggap organisasi yang berbahaya.
Di penghujung tahun 2010 ini umat Islam Indonesia khususnya juga mengalami titik kebekuan dalam pengamalan rukun Islam, lalu siapakah sosok mujaddid yang akan membimbing mereka?
Dialah sosok yang mendeklarasikan dirinya sebagai bocah angon (sang penggembala), sebagaimana yang tersirat dalam tembang Ilir-ilir, karya Sunan Kalijogo. Sang penggembala adalah waliyulloh. Dalam filosofi kepemimpinan bocah angon, pemimpin harus berada di depan, tengah dan belakang. Ia harus ngemong sesama umat Tuhan. Pemimpin harus bisa nyamodra dalam pergaulannya sesama umat beragama.
Dialah yang kental dengan pengamalan ilmu Hasta Brata, ilmu tentang perwatakan kepemimpinan. Delapan perwatakan alam, yaitu bumi, api, air, angin, samudra, rembulan, matahari dan bintang menjadi watak kepemimpinannya.
Pertama, wataknya bumi. Maknanya, suka berderma. Tanah tak pernah berkeluh-kesah, meski diinjak-injak. Tanah bekerjasama dengan api, karena di dalam bumi ada api.
Kedua, wataknya air. Maknanya, air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah dan selalu bersikap rendah hati dalam kehidupan sehari-hari.
Ketiga, wataknya angin. Maknanya, selalu meneliti dan menelusup ke manapun, sehingga mengetahui persoalan-persoalan di masyarakat.
Keempat, wataknya lautan. Maknanya. Luas hati dan siap menampung keluhan orang lain tanpa merasa terbebani.
Kelima, wataknya rembulan. Memberikan penerang kepada orang lain.
Keenam, wataknya matahari. Memberikan daya dan energi kepada orang lain secara terus-menerus.
Ketujuh, wataknya api. Mengatasi masalah tanpa pilih kasih.
Kedelapan, wataknya bintang. Menunjukkan posisi dan kepribadian, bahkan cita-cita yang tinggi dan kokoh.
Dialah yang akrab dengan limo darmaning satrio.
1. Mengayomi rohaniawan yang sedang kembali ke alam suci dengan olah rasa nur Alloh sejati dan menahan nafsu, sehingga membuahkan kehidupan yang langgeng.
2. Memelihara keselamatan negara dan bumi kelahiran.
3. Mencintai bangsa dan kasih sayang pada rakyat jelata.
4. Menepati janji yang sudah diucapkan.
5. Tunduk pada kebenaran berdasar keadilan.
Dialah yang berhasil menjauhi sikap adigang, adigung, adiguno. Adigang, mengandalkan kedudukan. Adigung, mengandalkan “tinggi-besar.” Adiguno, mengandalkan senjatanya yang mematikan.
Dialah yang menguasai dan mengamalkan kepemimpinan Punokawan dalam jagad pewayangan, yaitu tanggap ing sasmito lan limpad pasang ing grahito (tanggap sekaligus cekatan dan memasang nalar dengan baik). Silakan Anda datang tiap malam Ahad Legi di Pondok Nurul Huda, Plosorejo, Gondang, Sragen! Tiap malam tersebut, yang mbahurekso pondok, Abah Syarif Hidayatulloh dalam pengajiannya nampak memiliki tanda-tanda dan sifat-sifat kepemimpinan itu.
Abah Syarif Hidayatulloh H
Sang Penyelamat Umat dan Bangsa
Di antara sekian ribu kiai di Indonesia, Abah Syarif termasuk paling berani. Dalam arti berani mengingatkan pejabat tinggi negara yang berbuat salah dengan bahasa sanepan. Di antara perjalanan hidupnya yang paling berkesan sekaligus terasa nikmat di hati Abah Syarif adalah membangun masjid. Sudah ada beberapa masjid yang beliau dirikan yang kekuatan bangunannya jauh melebihi masjid-masjid pada umumnya. Penampilannya yang nyeleneh tak seperti kebiasaan kiai pada umumnya, membuat banyak orang sering tak percaya beliau sebagai kiai. Bukan ke-nyeleneh-an yang menjadi tujuannya, tapi bahasa simbolik yang menjadi media ekspresinya. Misalnya, kebiasaan mengenakan kaos oblong ketika memberikan wejangan di panggung. Juga kebiasaannya mengeluarkan kata-kata yang polos dalam membuka wadi seseorang, meski banyak kata sindirian yang dilontarkan.
Anggota pengajiannya bukan hanya terdiri dari golongan intern tertentu umat Islam, tapi dihadiri dari beragam intern Islam maupun antarumat beragama. Jarang sekali kiai yang memimpin pengajian yang anggotanya dari berbagai golongan semacam ini. Calon pejabat, pejabat maupun mantan pejabat sering berkunjung kepada beliau. Sudah banyak alumni santrinya yang menjadi anggota aparat negara, sehingga begitu dihormati beliau di kalangan aparat.
Selain memiliki trah2) Browijoyo V/ Prabu Kertabumi, Prabu Majapahit, Abah Syarif juga mendapatkan anugerah kecerdasan ruhani. Di antara ciri orang yang mendapatkan kecerdasan rohani adalah:
1. Merdeka lahir batin
2. Merasakan malaikat pengiring yang dihadirkan Alloh.
3. Bersikap optimis, aktif, berani.
4. Berakhlak dengan akhlak Alloh.
5. Bersama dengan Alloh.
Keislaman Browijoyo V
Browijoyo V adalah seorang Muslim. Keislamannya diawali dengan perdebatan teologis antara Sunan Kalijaga dengan Prabu Browijoyo.
Sang Prabu bertanya, ”Syahadat itu seperti apa? Aku belum tahu. Silakan ucapkan, akan kudengarkan.”
Sunan Kalijaga menjawab,”Asyhadu alla ilaha illAllohu wa asyhadu anna Muhammadar rosululloh” (Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Alloh dan Kanjeng Nabi Muhammad utusan Alloh).
Sunan Kalijaga banyak memberikan wejangan kepada Prabu, sehingga beliau mau mengucapkan syahadat. Setelah mengucapkan syahadat, Sang Prabu minta rambutnya dicukur Sunan. Ketika digunting, rambutnya tak putus.
“Prabu dimohon Islam lahir-batin,” kata Sunan,”bila Islamnya lahir saja, rambutnya tak mempan digunting.”
Prabu Browijoyo V pun masuk Islam lahir-batin, meninggalkan agama Budha. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa negeri Majapahit sebagai Kesultanan Majapahit. Situs tentang keislaman Browijoyo V terdapat di Candi Cetho, daerah gunung Lawu. Di tempat yang teratas, nampak petilasan Browijoyo V sebagai tempat sholatnya. Di situ terdapat miniatur Ka’bah. Patung Browijoyo V yang wajahnya mirip Abah Syarif juga berada di situ. Hal ini sesuai sabdo Browijoyo V. Rumah Abah Syarif terletak di utara gunung Lawu dan selatan Bengawan Solo. Kehadirannya untuk jumeneng noto ditandai dengan meletusnya gunung Merapi yang laharnya menuju ke arah barat daya.
Abah Syarif yang kini berusia 50 tahun, sejak usia belianya gemar melakukan pengembaraan ruhani untuk mengenal Alloh. Pernah beliau berjalan kaki dari hutan Purwo Jatim ke Banten. Sekitar 13 tahun beliau melakukan topobroto ora lorobronto di hutan, sehingga memakan dedaunan dan buah yang ada di hutan. Pada usia 9 tahun dia sudah pernah bermimpi keluar dari jagad dunia ini. Demikianlah kebiasaan perilaku kekasih Alloh, sejak usia belianya banyak melakukan suluk (perjalanan spiritual). Seperti halnya Nabi Ibrahim mencari Tuhannya dan menemukan puncak ma’rifat kepada-Nya.
Abah Syarif bukanlah tipe orang yang sombong, yakni meremehkan orang lain dan menolak kritik membangun. Pergaulannya nyamodra, dari pejabat hingga rakyat jelata ia sambangi. Banyak pejabat tinggi negara yang segan dengan beliau, sehingga beliau dijuluki “Kiai Sakti.” Sesama antarumat beragama, beliau juga nyamodra. Lingkup pergaulannya dari Sabang sampai Merauke.
Beliau juga gemar mencari ilmu untuk diamalkan. Karya-karyanya beliau pergunakan semaksimalnya untuk melayani dan menghibur wong cilik, seperti rumah makan guna menggembleng santrinya kelak mencari nafkah. Kekayaannya yang melimpah tak melalaikannya untuk selalu dzikir. Ajaran ma’rifatnya adalah “masuknya nafas taubat dan taat (kepada Alloh), sedang keluarnya nafas raga menguntungkan orang lain.”
Tanah yang sekian luas sebagai buah usahanya, tak ada sejengkal pun yang diatasnamakan dirinya dalam sertifikat. Semua diatasnamakan yayasan Nurul Huda. Dengan demikian Abah Syarif tidak mewariskan sejengkal tanah kepada keluarganya sepeninggal beliau.
Bangunan pondok pesantren Nurul Huda, masjid dan alun-alun menjadi satu kompleks. Kompleks seluas itu, 25 tahun yang lalu berupa pondok kecil dengan dinding gedhek. Atas limpahan karunia Alloh, beliau menguasai lahan yang luas di Plosorejo.
Abah Syarif meniru Guru Agung manusia, Nabi Muhammad saw sebagai pemimpin umat sekaligus pemegang kunci perbendaharaan Baitul Mal dari kekuasaan yang membentang di Jazirah Arab. Beliau bertempat tinggal di sebelah masjid dan sering mengganjal perutnya karena lapar. Ketika wafat, beliau tak meninggalkan secuil pun harta warisan untuk putera-puteri dan cucu-cucunya. Beliau hanya mewariskan kitab Alloh dan keteladanan bagi manusia.
Keempat orang sahabat pengganti Nabi saw, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali rodhiyallohu anhum adalah insan kamil yang menjadi cermin kewakilan atas asma, sifat dan perilaku Alloh.
Ilmu kesenian dan kebudayaan Abah Syarif dipergunakan untuk menghibur sekaligus mendidik masyarakat kecil, seperti gamelan dan tayub. Gamelan mengingatkan kita pada gong Sunan Bonang dan Sunan Kudus. Tayub (ditoto ben guyub, diatur agar terjadi kerukunan) pada dasarnya mengandung nilai-nilai religius, sebelum tercampur dengan budaya Barat. Begitu akrab beliau dengan ruh Al-Qur’an dalam kesehariannya. Sikap Abah Syarif yang menyesuaikan diri terhadap kebudayaan Jawa, terbuka terhadap agama lain serta semangat pembelaannya terhadap wong cilik merupakan buah dari ma’rifatnya. Beliau senantiasa melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Amar ma’ruf berarti berbuat baik sekaligus teladan. Nahi munkar berarti teladan kebaikan sekaligus berani mengingatkan orang yang salah. Demikianlah tanda-tanda pemimpin yang ngamandhito (menjadi ulama).
Semuanya dilakukan dalam rangka memayu hayuning bawono (menjaga kelestarian dan kesejahteraan alam) atau rohmatan lil ‘alamin.
Maneges
Tahun-tahun menjelang habisnya kepemimpinan yang keenam di Nusantara, Abah Syarif Hidayatulloh melakukan maneges. Beliau hendak menegaskan melalui lubuk hatinya terdalam, apakah Alloh akan menjadikannya sebagai “utusan-Nya untuk jumeneng noto?”
Musyahadah sedang beliau lakukan. Musyahadah adalah sejenis pengetahuan langsung tentang Hakikat yang disaksikan. Syahadat adalah proses penyaksian langsung melalui hati yang bening. Syahadat dalam lingkup ma’rifat bukan sekadar syahadat lisan, tapi kesadaran dari apa yang dirasakan lubuk hati yang terdalam.
Syahadat Tauhid adalah syahadat kemanunggalan dengan Gusti (Alloh). Syahadat Rosul sebagai efek langsung di dunia fisik. Syahadat manusia yang sebenarnya mengemban fungsi sebagai kholifah Alloh di muka bumi.
Pertama, manusia harus berperilaku sebagaimana Alloh berperilaku, dengan menekankan kejujuran, kasih-sayang dan mandiri.
Kedua, derajat manusia sama. Mereka harus tolong-menolong. Oleh karena itu manusia tak berwenang menyetir orang lain, tapi Allohlah yang berwenang (QS. 33 : 36).
Ketiga, tak perlu ada simbol-simbol keagamaan yang harus dibela, karena manusia sejiwa dengan Alloh Yang Maha Melindungi.
Keempat, dalam diri manusia telah disemayamkan nur Muhammad, sehingga ia diberi kesempatan untuk menelusuri jalan kebenaran sebagaimana yang dilakukan Nabi saw. Beliau ber-tahannuts (meditasi) dan ber-kholwat (menyendiri) di gua Hiro’ sampai bertemu dengan kebenaran itu sekaligus pengangkatan dirinya sebagai nabi (kholifah Alloh). Kebenaran itu didayagunakan untuk kemaslahatan manusia, memayu hayuning bawono. Di sinilah arti pentingnya maneges.
Kelima, manusia tak boleh terbelenggu harta dan kekuasaan, sehingga mereka selalu berjalin dengan ruh.
Kholifatulloh dan Insan Kamil
Kata “kholifah” (wakil Alloh) dalam kaitan dengan kholifatulloh fil ardh merujuk pada al-Wakil, salah satu asma-Nya. Hak fitrah manusia di muka bumi hanyalah sebagai pemelihara dan pengelola bumi. Seorang wakil al-Wakil dilarang merusak sumber daya alam di permukaan dan di perut bumi Alloh. Manusia bukanlah pewaris dan penguasa bumi, mengingat bumi bukanlah asal hunian manusia.
Manusia terbentuk dari dua unsur utama, yaitu tanah dan ruh suci yang ditiupkan Sang Pencipta kepada leluhur manusia Adam ketika di surga. Sebagai wakil Alloh di muka bumi, manusia tak boleh mengiblatkan hati dan pikirannya ke bumi karena bukan tempat kembali manusia setelah mati. Bumi hanya menjadi tempat kembali jasad yang terbuat dari tanah. Bumi hanya hunian sementara. Ruh suci berasal dari Alloh dan akan kembali kepada-Nya. Oleh karena itu tak sepantasnya manusia mencintai sesuatu melebihi kecintaan kepada-Nya, di mana ruh itu berasal. Nafsu rendah badani senantiasa mendorong manusia untuk mencintai bumi dan isinya, sehingga menyesatkan dari jalan-Nya.
Kekholifahan adalah medan pertempuran masing-masing manusia untuk menguji diri. Kekholifahan bisa dicapai dengan bersungguh-sungguh, berani, tawakal dan optimis, dengan ijin Alloh. Bagi pemalas, penakut, mudah putus asa dan pesimis tak akan mendapatkan kedudukan kholifah, sehingga selamanya seperti binatang. Kekholifahan adalah sebuah rentangan kedudukan antara binatang, manusia dan insan kamil.
Ketika manusia berjuang untuk mencapai kekholifahan, muncullah orang-orang yang berjiwa keledai, unta, kerbau, sapi, kuda beban dan anjing. Merekalah yang mencintai pribadi dengan berlebihan. Kiblatnya bumi dan materi. Mereka memanggul beban nafsu dan pamrih duniawi yang berat.
Ketika beban tersebut tak dapat disangga lagi, maka yang berjiwa binatang itu menjadi pemangsa bagi sesamanya. Ia memangsa yang lain guna memenuhi hasrat nafsunya yang haus darah.
Yang lebih tinggi derajatnya dari binatang adalah manusia. Manusia adalah orang yang sadar akan keberadaan dirinya sebagai pemilik kekuasaan kodrati insan kamil, tapi hanya dalam tataran pemikiran dan pemahaman. Mereka gagal menggapai kekholifahan dalam ujud amaliah sehari-hari. Mereka sering terjebak dalam perilaku tak adil, meski sadar hal itu salah.
“Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu…” (QS. 2 : 21)
Bagi yang berjiwa “manusia” tentu akan tergerak hatinya memenuhi perintah Alloh tersebut, yaitu beribadah kepada Alloh.
Tingkatan tertinggi adalah insan kamil, yaitu wakil Alloh di muka bumi. Merekalah yang berhasil menaklukkan nafsu rendah badani yang bersembunyi dalam jiwanya. Mereka adalah pahlawan yang terbang meninggalkan gemerlapan bumi. Mereka penjaga keseimbangan bumi, pemelihara bumi sejati dan penegak keadilan. Mereka pahlawan yang ditunggu-tunggu kehadirannya oleh penghuni bumi, karena memberi rahmat kepada lingkungannya. Benarkah Abah Syarif sebagai satrio pinandhito sinisihan wahyu yang akan menyelamatkan umat dan bangsa Indonesia? Sesuai tanda-tanda dan kapasitas ketokohannya, sepantasnya beliau menaiki tahta kepemimpinan di Nusantara yang ketujuh.
Tujuh Satrio Piningit jongko Ronggowarsito:
1. Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro
2. Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar
3. Satrio Jinumput Sumelo Atur
4. Satrio Lelono Topo Ngrame
5. Satrio Piningit Hamong Tuwoh
6. Satrio Boyong Pambukaning Gapuro
7. Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu
Abah Syarif senantiasa menekankan oknum-oknum sebagai sumber kerusakan sebuah negara. Begitu vokal kata-katanya itu. Para oknum tersebut adalah dukun, paranormal, sebagian besar pejabat dan kiai. Sebagian besar pejabat yang mendapat suwuk dari dukun dan paranormal menggadaikan negara kepada perusahaan asing, padahal ia merusak sumber daya alam Indonesia. Tanah Nusantara sebagai aset termahal, digadaikan pejabat dalam masa kontrak kurang lebih satu abad.
Letak kesalahan kebanyakan kiai sekarang adalah menjual agama dan pondoknya kepada pejabat dan umat. Seringkali pendirian pondok pesantren berorientasi mencari bantuan dari pemerintah dan mengeruk keuntungan dari para santrinya.
Carut-marutnya kondisi sosial-politik, sosial-ekonomi dan sosial-keagamaan Indonesia dewasa ini menggerakkan hati Abah Syarif untuk jumeneng noto. Jumeneng artinya mengatur dan membenahi negara. Noto artinya menata rakyat dan umat, termasuk mengayomi dan menghibur mereka.
Setidaknya Abah Syarif hendak meniru mentalitas leluhurnya, Browijoyo V dalam jumeneng noto, lebih-lebih bisa seperti Nabi Muhammad saw. Di masa pemerintahannya, Browijoyo V akrab dengan para wali, terutama kemenakan permaisurinya, Ratu Anarawati, yaitu Sayid Rahmat. Jika sebuah pemerintahan telah bekerja sama dengan wali dan ulama, tentu keadilan dan kesejahteraan negara tercapai dengan nyata. Sebaliknya jika sebuah pemerintahan telah meremehkan wali maupun ulama, maka cita-cita keadilan dan kesejahteraan hanya omong kosong!
Kerjasama Browijoyo V dengan Sayid Rahmat
Sayid Rahmat (Sunan Ampel) adalah cucu dari Syekh Jamaluddin Jumadil Kubro. Ketika keadaan sosial-politik, sosial-ekonomi dan sosial-keagamaan kerajaan Majapahit carut-marut, Prabu Browijoyo sangat prihatin. Permaisurinya dari Cempa, Ratu Dewi Anarawati pun tanggap atas keprihatinan sang suami. Ia pun mengajukan inisiatif kepada Prabu untuk memanggil kemenakannya, Sayid Rahmat ke Majapahit guna memperbaiki moral kaum bangsawan dan pangeran.
Prabu Browijoyo setuju atas inisiatif istrinya itu. Sayid Rahmat ke Jawa ditemani ayahnya, Ibrahim Asmarakandi dan kakaknya, Ali Murtadla. Sayid Rahmat tinggal beberapa hari di Majapahit dan dinikahkan dengan putri Majapahit, Dewi Candrawati. Sejak itu beliau dipanggil Raden Rahmat, karena menjadi menantu Raja Majapahit, Browijoyo V. Langkah awal Raden Rahmat dalam upaya memperbaiki moral para petinggi Majapahit adalah mendirikan masjid dan pesantren.
Prabu Browijoyo sangat simpatik kepada Raden Rahmat, karena tutur bahasa dan wataknya yang lemah lembut. Sang Prabu akhirnya menghadiahkan sebidang tanah beserta bangunannya kepada menantunya itu di Ampeldenta Surabaya, sehingga beliau terkenal dengan sebutan Sunan Ampel.
Ajaran Raden Rahmat tepat mengenai sasaran penyakit sosial-masyarakat yang diidap kaum bangsawan Majapahit. Ajarannya Moh Limo (hindari lima) macam penyakit sosial-masyarakat, yaitu “main”, madon, madat, maling dan minum. Arti masing-masing adalah main judi, main perempuan, menghisap ganja (narkoba), mencuri dan minum arak. Prabu Browijoyo bangga memiliki menantu seperti Raden Rahmat, karena keberhasilannya memperbaiki mentalitas para putra bangsawan, adipati dan kawulo. Lima macam penyakit sosial inilah yang dinilai akan membawa Majapahit ke arah kehancuran.
Demikian juga yang terjadi di Nusantara sekarang, sehingga Abah Syarif yang dikenal memiliki karomah hendak memperbaiki Nusantara lewat jumeneng noto-nya.
Menuju Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur
(negeri yang bagus nan penuh ampunan Tuhan)
Doa khotib di mimbar shalat Jum’at terdengar.
Allohummaj’al baldatana Indonesia baldatan thoyyibatan tajrii fiha ahkamuka wa sunnatu rosulika, ya Hayyu ya Qoyyum (Ya Alloh jadikanlah negeri kami Indonesia, negeri yang bagus yang berlaku hukum-Mu dan sunnah Rosul-Mu, wahai Yang Maha hidup dan Maha mandiri).
Jika doa itu dikabulkan Alloh, tentunya melalui tangga kepemimpinan Abah Syarif di Indonesia.
Abah Syarif pernah mengatakan bahwa setidaknya ia mampu meniru seperti Browijoyo, lebih-lebih seperti Nabi Muhammad saw.
Kata-kata tersebut mengandung pengertian bahwa setidaknya ia dapat jumeneng noto dengan sasaran sebatas memperbaiki moral para pejabat dan masyarakat Indonesia umumnya. Untuk menuju negeri yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur (negeri yang sejahtera nan penuh ampunan Tuhan), tentu melalui kepemimpinan beliau. Demikian pandangan ke depan Abah Syarif.
Abah Syarif menganalisa bahwa keislaman sebagian besar kiai Indonesia kini hanya lahirnya, tanpa menyentuh batinnya. Hal inilah yang menjadi petaka bagi umat yang awam. Justru yang menyesatkan umat terutama sebagian besar kiai, karena kiai di mata orang awam sebagai panutan. Tak salah jika sebagian besar kiai disebut sebagai setan makan sambal.
Digambarkan karakter kebanyakan kiai “datangnya di majlis tertinggal, tapi menyantap makanan paling awal. Lalu kiai pulang dengan membawa amplop yang berisi uang sumbangan yang dikumpulkan umat.” Demikianlah sikap dan watak kebanyakan kiai di tengah umat, sehingga menimbulkan citra buruk bagi seluruh kiai di mata orang awam. Seorang kiai dapat menyesatkan dua orang awam. Telah terbentuk opini di tengah umat bahwa sekarang tak ada kiai yang “ikhlas”, semua punya pamrih amplop.
Koreksi Pengamalan Rukun Islam
Dalam Al-Qur’an berulangkali disebutkan kata thoyyib yang bermakna bisa membawa berkah bagi jasmani dan ruhani manusia. Keberkahan tersebut bisa terwujud jika manusia mengamalkan aturan dengan baik. Hal ini jika terjadi bila wakil dari Al-Wakil (Maha Pemelihara) atau kholifah-Nya telah jumeneng noto. Nilai-nilai rukun Islam pun diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga terkikislah kedzoliman dan kesewenang-wenangan di masyarakat.
Syahadat bermakna kehadiran Alloh dalam jiwa, lahir dari sebuah kesadaran yang mendalam. Nabi dan kenabian sebagai hal yang selalu hidup. “Muhammad” sebagai lambang nur dan ruh. Sholat yang diawali dengan gerakan ritual jasmani melahirkan sholat hati selamanya (sholat daim) yang tak terikat tempat, pakaian dan waktu. Di samping puasa syariat, puasa ruhani tak mengenal waktu dengan tertahannya pancaindera dan hati dari hal-hal yang terlarang.
Zakat bukan dalam arti hanya mengeluarkan 2,5% dari kekayaannya yang halal tiap tahun sesuai nisob, tapi mengulurkan bantuan kepada orang yang memerlukan. Haji adalah olah ruhani. Makkah pada hakikatnya adalah spirit manusia yang tak hanya ditempuh dengan bekal uang.
Seorang kholifah yang telah mencapai ma’rifatulloh, pasti terkumpul sifat-sifat kebaikan.
1. Sifat-sifat Alloh yang menutupi dan mengampuni kesalahan hamba-Nya, bahkan dirinya mencerminkan asma, sifat dan perbuatan Alloh.
2. Sifat Muhammad saw, yang memberi syafaat dan sebagai sahabat makhluk. Ia sebagai cermin ruh, nur dan hakikat Muhammad.
3. Sifat Abu Bakar ra, yang jujur dalam kebenaran dan kebajikan.
4. Sifat Umar ra, yang ber-amar ma’ruf nahi munkar,
5. Sifat Utsman ra, yang menyantuni fakir-miskin dan bangun di malam hari.
6. Sifat Ali ra, yang berilmu dan pemberani.
Abah Syarif memiliki sifat-sifat yang suka memaafkan kesalahan orang lain. “Cacian, makian, halangan, rintangan adalah konsumsi harian. Fitnah dan lawan adalah hiburan,” demikian salah satu semboyan dalam perjuangannya.
Ini hanya untuk santri Abah Syarif. Laku lahir patang perkoro:1) Wong bodo koyo kebo, 2) Wong pinter keblinger, 3) Wong ngerti gampang loro ati, 4) Weruh ra keno njupuk duweke liyan. LAKU BATIN PATANG PERKORO: 1) Waskito, 2) Hutomo, 3) Sampurno, 4) Mukso/Selamet. Hablumminalloh mlebune nafas tobat toat, Hablumminannas metune nafas rogo nguntungne wong liyo. Manajemen, Prihatin, Sosial, Berani, dan Tanggung Jawab. Ojo neko-neko ojo leno ojo nakal, laku utomo nguntungne wong liyo. Kapan aku dadi wong apik. Kabeh mau ngunduh wohing pakerti. Ayo manut Wali Nabi Gusti.
Beliau suka menolong orang yang sedang dirundung kesusahan dan sahabat masyarakat dari berbagai kalangan, bahkan sahabat nyamuk yang menggigitnya.
Beliau bisa melakukan berbagai macam pekerjaan, tapi tak bisa menipu dan curang. Amar ma’ruf nahi munkar adalah pekerjaannya, bahkan tak segan mengingatkan pejabat yang berbuat salah. Pondok pesantren yang beliau dirikan dihuni kebanyakan anak-anak fakir-miskin dan beliau gemar menyantuni mereka. Di samping fisiknya kuat, beliau juga berilmu dan pemberani dalam menghadapi tantangan. Ilmunya tak hanya sebatas teori, tapi benar-benar bermanfaat bagi orang lain.
Ilmu syariatnya diamalkan dalam rangka rohmatan lil ‘alamin, seperti menyantuni fakir-miskin, memaafkan orang lain yang berbuat salah kepadanya dan pemberian pangestu dan wejangan kepada calon-calon pejabat. Demikian juga ilmu batiniahnya, dipergunakan untuk meyakinkan orang yang masih ragu pada Islam. Misalnya ketika beliau menyuruh malaikat Izrail (pencabut nyawa) untuk mengembalikan ruh Yati Pesek yang sudah dinyatakan mati. Atas izin Alloh ruh itu kembali lagi ke dalam jasadnya, sehingga menjadikan Samuel orang Nasrani yang di dekatnya menyebut Abah Syarif sebagai “Yesus.” Beliau disebut “Yesus” karena juga suka memberi makan kepada banyak orang.
Abah Syarif begitu kental dengan sifat-sifat kholifah Alloh, sehingga seorang raja segan kepada beliau. Pantas jika beliau jumeneng noto negara Indonesia tentu akan mendapat berkah dari kepemimpinannya. Indonesia akan menjadi sorotan luar negeri, karena kembalinya kekuasaan ke tangan wali.
Ciri lain seorang wali adalah mampu mengatasi masalah, bukan menambah masalah. Dewasa ini negara Indonesia sedang mengalami masalah besar, baik yang menyangkut dalam negeri maupun luar negeri. Keduanya bermuara pada mentalitas sebagian besar pejabat yang merasa rendah diri terhadap asing, sehingga negeri dan aset-aset negara yang vital digadaikan kepada perusahaan asing. Misalnya pertambangan minyak, gas alam, emas dan hutan. Betapapun besar dan beratnya masalah Indonesia, jika sang wali telah nyabdo selesai masalah itu, maka selesailah.
Intaha. Leres Gusti.

Posted by Santri Kalong Warokbrangassan on Januari 30, 2011 at 11:22 am
…. Kapan Aku Dadi Wong Apik….
Mangan…Turru … Njogedd
Posted by dhesumo on Januari 30, 2011 at 2:18 pm
Nggeh…leres dulur…Laku utomo Nguntungake wong liyo…Abah Syarif Jumeneng Noto … opo iso ?… BISO…
Posted by Ikas on Februari 10, 2011 at 3:55 pm
Abah Syarif Jumeneng Noto…. MESTI BISO !!!!
Posted by Muhammad anom notoati on Januari 9, 2013 at 6:03 am
aku kesel2 mlaku nang abah syarif ga duwe duit mulihe ga disangoni brati ga loman iku abah syarif .
Posted by dhesumo on Januari 21, 2013 at 8:04 am
lho njenengan kok ten nggen ne abah mlaku niku saking pundi mas…ten nggen ne abah enten perlu punopo…njenengane matur kalihan abah e mboten…nek ga dwe dwit niku…nek njenengan e mendel mawon nggih lumrah to…
Posted by surya kencana on Maret 12, 2013 at 6:40 pm
iso noto awak bakal iso noto negoroooo…..mugo q iso ketemu abah sarip..ben ngerti coro ne noto awak ben ora rusak…
Posted by dhesumo on Maret 13, 2013 at 6:54 am
amiin mas…
Posted by ibnu fz on Maret 21, 2013 at 3:23 pm
Yang tau dia wali hanyalah seorang wali….
Jangan terlalu memuja seorang mahluk secara berlebihan…
Posted by dhesumo on Maret 23, 2013 at 1:03 pm
maaf nuwun sewu mas ibnu…apakah njenengan berpendapat klo saya menyebut Beliau Abah Syarif itu seorang wali atas dasar anggapan saya sendiri…?????? saya rasa njenengan perlu datang ke Mabes Browijoyo V Sragen terlebih dahulu….
Posted by Hermansyah on April 3, 2013 at 3:08 am
Bismillah. Allahu Akbar. Semoga beliau Abah Syarief Hidayatullah terus berjihad dalam mengademi, menganyomi, mencerdaskan dan mensejahterakan seluruh anak bangsa di bumi nusantara tercinta ini. Bangsa ini membutuhkan kehadiran seorang Pemimpin Sejati, yaitu pemimpin yang jujur, bersih, amanah, dan berani menegakkan kebenaran dan keadilan sebagai sarana mewujudkan masyarakat yang aman, adil dan makmur. Sampaikan salam hormat dan salam sungkem untuk Abah Syarief. Saya pernah berkunjung beberapa kali ke Ponpes Nurul Huda dan bertemu dengan beliau sekitar tahun 1999. Banyak hal positif yang saya pelajari dari beliau, antara lain : hakikat makna rahmatan lil ‘alamiin, kesederhanaan, welas asih kepada sesama tanpa membeda-bedakan latar belakang, dll. Semoga Abah Syarief senantiasa mendapat limpahan rahman, rahiim, barokah dan ridho dari Allah SWT. Amiin Ya Robbal “alamiin…..
Posted by dhesumo on April 4, 2013 at 2:00 pm
Amiiin…Insyaalloh mas nanti saya sampaikan
Posted by surya kencana on April 11, 2013 at 12:36 am
enjeehh.. terima kasih mas…
Posted by barokah on Mei 1, 2013 at 8:18 pm
Sy adalah anak perempuan putri bungsu Dr alm bpk tohir Cilacap,sy dah 2 thn pgn ketemu abah,sy disuruh alm bpk sy buat ketemu abah,tolong ksh tau sy dmn sy bs bertemu abah,tolong sekali. Info ke sy 085227268063 / 085813782020 / 083875615145
Posted by dhesumo on Mei 2, 2013 at 3:20 am
punten mbak…klo mau ketemu…silahkan datang saja langsung ke lokasi pndoknya…alamatnya desa plosorejo,kecamatan gondang kabupaten sragen…sebentar nanti tak sambungkan dengan salah satu putra beliau…
Posted by dhesumo on Mei 2, 2013 at 3:29 am
saya sdah masukkan koment njenengan ke facebook beliau…moga sgera ditindak lanjuti…akun fbnya..http://www.facebook.com/sshidayatullah?ref=ts&fref=ts